Jumat, 06 Januari 2012

Kabupaten Sumba Timur

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada masa lalu, kabupaten ini berada di bawah Keresidenan Timor.
  
Kecamatan
Kabupaten Sumba Timur dibagi menjadi 22 kecamatan, yaitu:
  1. Haharu
  2. Kahaungu Eti
  3. Kambata Mapambuhang
  4. Kambera
  5. Kanatang
  6. Karera
  7. Katala Hamu
  8. Kota Waingapu
  9. Lewa
  10. Lewa Tidahu
  11. Mahu
  12. Matawai Lapau
  13. Ngadu Ngala
  14. Nggaha Oriangu
  15. Paberiwai
  16. Pahunga Lodu
  17. Pandawai
  18. Pinu Pahar
  19. Rindi
  20. Tabundung
  21. Umalulu
  22. Wulla Waijelu
  
Batas wilayah
Kabupaten ini menempati bagian timur Pulau Sumba dengan batas-batas sebagai berikut:

Utara Selat Sumba
Selatan Samudra Hindia
Barat Kabupaten Sumba Barat
Timur Laut Sabu

Selain itu kabupaten Sumba Timur juga meliputi empat pulau kecil di selatan, yakni Pulau Salura, Pulau Mengkudu, Pulau Kotak dan Pulau Nusa.
  
Topografi
Kondisi topografi Sumba Timur secara umum datar (di daerah pesisir), landai sampai bergelombang (wilayah dataran rendah <100 meter) dan berbukit (pegunungan). Daerah dengan ketinggian di atas 1000 meter hanya sedikit di wilayah perbukitan dan gunung. Lahan pertanian terutama di dataran pantai utara yang memiliki cukup air di permukaan maupun sungai-sungai besar. Setidaknya terdapat 88 sungai dan mata air yang tidak kering di musim kemarau.
Rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur curam yang menguasai wilayah bagian tengah dengan empat puncak: Mawunu, Kombapari, Watupatawang dan Wanggameti. Dataran rendah terdapat di sepanjang pesisir dengan bagian yang cukup luas di Tanjung Undu (pesisir paling barat). Kabupaten ini beriklim tropis dengan musim hujan yang relatif pendek dan musim kemarau yang panjang (delapan bulan). Suhu rata-rata adalah 22,5 derajat sampai 31,7 derajat Celsius. Musim hujan biasanya terjadi di bulan Desember sampai Maret untuk daerah pesisir dan November sampai April di daerah pedalaman. Jumlah curah hujan dalam setahun 1.860 milimeter, sehingga daerah ini termasuk daerah beriklim kering.
Amplitudo suhu yang tinggi mengakibatkan batu-batuan menjadi lapuk, tanah merekah dan terjadi seleksi alam terhadap tumbuhan dan hewan yang dapat hidup dalam kondisi demikian. Karena itu, jenis tumbuhan yang ada umumnya berupa tanaman keras seperti jati, kelapa dan aren, sementara hewan peliharaan umumnya adalah sapi, kerbau dan kuda yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan alam Sumba yang berpadang sabana luas.
Keadaan tanah di Sumba Timur mengandung pasir, kapur dan batu karang karena ratusan ribu tahun yang lalu daerah ini berada di bawah permukaan laut. Setelah zaman es berlalu, daratan ini muncul di atas permukaan laut, sehingga sering dijumpai berbagai jenis hewan laut seperti kerang, ikan dan tanaman laut yang telah menjadi fosil di bukit-bukit karang. Rumput-rumput pun tumbuh di atas batu-batu karang.
  
Demografi
Jumlah Penduduk Kabupaten Sumba Timur (2002) adalah 190.214 jiwa atau dengan kepadatan rata-rata 27 jiwa/km². Kepadatan tertinggi di Kecamatan Waingapu, yaitu 1.049 jiwa/km², sedang kepadatan terendah ada di Kecamatan Haharu, yaitu 13 jiwa/km². Disamping orang Sumba Timur asli juga terdapat orang Sabu, keturunan Tionghoa, Arab, Bugis, Jawa dan penduduk yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur lainnya. Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Sumba Kambera. Sebagian besar penduduk di kabupaten ini beragama Protestan. Selebihnya adalah Islam, Hindu dan Budha. Sekitar 39 persen lagi adalah beragama tradisional Marapu. Meskipun keadaan tanahnya kurang subur, lebih dari separuh penduduk kabupaten Sumba Timur ini adalah petani. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai peternak, pegawai, buruh, nelayan dan lain-lain. Walaupun sektor pertanian menempati tempat pertama dalam pendapatan regional, luas sawah yang bisa digarap baru 11 persen dari luas tanah kabupaten seluruhnya. Penggarapan sawah ini dilakukan dengan cara tradisional yang disebut renca, yaitu pengerahan tenaga manusia dan kerbau dalam jumlah besar diatas tanah sawah yang akan ditanami. Kaki-kaki kerbau yang berjumlah puluhan ini digunakan sebagai pengganti bajak dan pekerjaan renca ini diawali dan diakhiri dengan upacara keagamaan (ritus). Kehidupan sehari-hari penduduknya pada dasarnya merupakan cerminan kehidupan agama tradisional mereka. Hal ini bisa dilihat saat mereka melaksanakan berbagai upacara adat berkenaan dengan daur hidup seperti upacara kelahiran (habola), perkawinan (lalei atau mangoma) dan kematian (pa taningu).

Perekonomian

Perekonomian penduduk Sumba Timur ini sebagian besar adalah pertanian, (termasuk peternakan), industri rumah tangga (terutama kerajinan tekstil/tenun) serta pariwisata.
  
Kerajinan
Industri rumah tangga di Sumba Timur didominasi kerajinan kain tenun ikat yang terdapat di hampir seluruh penjuru kabupaten. Kerajinan kain tenun ikat ini sudah terkenal sejak ratusan tahun. Ada dua kelompok pengrajin, yaitu yang menggantungkan seluruh penghasilannya pada pekerjaannya dan yang melakukannya hanya sebagai kerjaan sambilan. Seniman sambilan ini umumnya adalah mereka yang secara sosial masih memiliki fungsi adat seperti kaum bangsawan (maramba). Walaupun merupakan hasil sambilan, tenun jenis ini bermutu tinggi karena sebenarnya tenunan tersebut bukanlah barang dagangan, hanya sebagai koleksi atau digunakan dalam upacara adat. Ada beberapa daerah yang terkenal dengan kain tenunnya, seperti Desa Kaliuda yang terletak di Kecamatan Pahungalodu, Rindi dan Watuhadang yang terletak di kecamatan Rindiumalulu, Rambangaru yang terletak di kecamatan Pandawai dan Kelurahan Prailulu. Tenunan dari daerah ini bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan ramuan tradisional dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tidak jarang ada tenunan yang lama penyelesaiannya hingga tahunan, yang menyebabkan harga jualnya pun mencapai jutaan rupiah, terutama yang berasal dari Rindi, Kaliuda dan Kampung Pau. Kerajinan tenun ini juga mendukung kegiatan pariwisata di kabupaten ini.
Read More >> Kabupaten Sumba Timur

Kamis, 05 Januari 2012

Kabupaten Sumba Tengah

Kabupaten Sumba Tengah adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia yang dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 3 tahun 2007. Kabupaten ini adalah pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat.
Peresmian kabupaten ini dilakukan pada tanggal 22 Mei 2007 oleh penjabat Mendagri, Widodo A.S.
  
Daftar Kecamatan
Wilayah Kabupaten Sumba Tengah dibagi menjadi 5 kecamatan, yaitu:
  1. Kecamatan Katikutana, Ibukota Waibakul
  2. Kecamatan Mamboro, Ibukota Mananga
  3. Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Ibukota Lendi Wacu
  4. Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Ibukota Rita
  5. Kecamatan Katikutana Selatan, Ibukota Waikabeti
Read More >> Kabupaten Sumba Tengah

Rabu, 04 Januari 2012

Kabupaten Sumba Barat Daya

Kabupaten Sumba Barat Daya adalah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sebagai pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat, dan dibentuk berdasarkan UU No. 16 tahun 2007. Peresmian dilakukan oleh Penjabat Mendagri Widodo A.S. pada tanggal 22 Mei 2007.
  
Daftar Kecamatan
Wilayah ini dibagi menjadi 8 kecamatan, yaitu:
  1. Kodi
  2. Kodi Bangedo
  3. Kodi Utara
  4. Laura
  5. Wewewa Barat
  6. Wewewa Selatan
  7. Wewewa Timur
  8. Wewewa Utara
Read More >> Kabupaten Sumba Barat Daya

Selasa, 03 Januari 2012

Moratorium untuk Sumba Timur Perlu Diperpanjang

By: Agust Dapa Loka

Kalau pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan moratorium hingga 2013 (mudah-mudahan saya benar), pikir saya adalah sebuah sikap bijaksana. Kebijakan ini tentu tidak usah kita pandang sebagai sebuah sikap “menutup jalan hidup” generasi yang sedang tepat harus menggunakan waktu-waktu ini untuk mencari peluang kerja sebagai PNS. Memang tentu dapat diakui bahwa kebijakan ini tidak harus tepat bagi daerah-daerah yang sangat membutuhkan tenaga baru dalam status PNS.
Sebagai anggota masyarakat di sebuah kabupaten terpencil “Sumba Timur”, ketika mendengar pemberlakuan moratorium, saya spontan mengatakan, “Ini Kebijakan Bagus”. Apa pasalnya?
  1. Hampir setiap hari PNS di wilayah Sumba Timur (Kota Kabupatennya) cuma wira-wiri di jalanan.
  2. Kalau kita berurusan dengan para pegawai di kantor-kantor, nyaris sulit kita dapati kantor dihuni oleh pegawai yang sedang sibuk bekerja, bahkan tidak jarang dijumpai para pegawai yang ada, asik bermain game. Urusan dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan terulur-ulur.
  3. Kebanyakan pegawai di kantor-kantor susah masuk kantor tepat waktu tapi pulang ke rumah lebih awal.
  4. Gaya kerja kebanyakan pegawai dalam berurusan dengan instansi di bawahnya, adalah gaya feodal.
  5. Tingkat loyalitas terhadap pimpinan rendah. Semua bergaya “sok bisa”
  6. Jika saja ada pegawai yang rajin bekerja, lebih banyak dianggap sebagi “penjilat”
Nah, kalau begini keadaannya, untuk apa tambah-tambah pegawai yang nantinya sekedar turut memadati ruang kantor. Dan boleh jadi, mereka yang baru itu (kalau terbuka penerimaan pegawai negeri sipil yang baru) akan mengalami pengeroposan idealisme kerjanya.Kebijakan ini memberi tenggang waktu yang baik untuk digunakan para pimpinan membenahi kinerja para pegawai yang saat ini sedang berkarya aktif. Saudara-saudari yang hendak menyusul, baiklah sementara ini mengasah perjuangan untuk masuk ke dunia swasta yang saya anggap mampu memberi penguatan atas idealisme kerja yang sedang menggebu-gebu. Mari kita berjuang bersama melindungi negara ini dari upaya-upaya pengeroposan dengan cara mempekerjakan orang yang nyata-nyata sekedar mendapat legitimasi oleh pakaian dinas untuk dianggap layak mendapat upah yang  tidak sedikit jumlahnya.
Ide ini jelas akan diserbu habis-habisan. Tapi jika dengan jujur kita membuat refleksi, kenyataan ini akan mengundang kita (walau secara diam-diam) untuk manggut-manggut. Memang moratorium itu adalah dilema, sebab berkibat tidak sedikit terhadap angkatan kerja yang sedang mencari peluang. Inilah kenyataan ketika sebuah angkatan terdahulu menutup kesempatan bagi yang lain dengan etos kerja yang kurang menguntungkan.
Pertanyaannya, apakah lucu jika dalam perjalanan kerjanya seorang pegawai negeri sipil yang nyata-nyata tidak menunjukkan prestasi kerja ditinjau ulang  kepegawaiannya? Harus ada shock therapy untuk menegakkan displin dan produktivitas kerja. Mungkin sudah mendesak bahwa seluruh perkantoran diperlengkapi dengan CCTV sehingga dengan mudah pimpinan memonitor gerak kerja di setiap ruang kantor.
Pak Bupati Sumba Timur, kalau sempat baca tulisan ini, “jangan marah ya”. Pak Bupati, yakinlah ketika pak Bupati melakukan kunjungan ke luar baik ke wilayah-wilayah kecamatan bahkan desa ataupun ke luar daerah, di belakang pak Bupati, banyak orang bergembira. Para pegawai kan sudah punya informasi tentang jadual tugas luar pak Bupati. Diam-diam para pegawai sudah turut merencanakan untuk masuk-keluar kantor sesuai kebutuhan masing-masing. Hahahaiiiya, kasihan dana negara yang digunakan untuk membayar para penganggur.


sumber: http://politik.kompasiana.com/2011/12/30/moratorium-untuk-sumba-timur-perlu-diperpanjang/
Read More >> Moratorium untuk Sumba Timur Perlu Diperpanjang

Kabupaten Sumba Barat

Kabupaten Sumba Barat adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibu kotanya berada di Waikabubak. Luas daratannya 4.051,9 kilometer persegi.
  
Keadaan Alam
Topografi kabupaten ini berupa rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur yang curam. Iklimnya tropis dengan musim hujan relatif pendek dibandingkan kemarau. Curah hujan rata-rata cukup tinggi, terutama pada November hingga Maret.

Penduduk
Penduduknya berjumlah sekitar 300.000 jiwa. Masih banyak dari penduduk kabupaten ini masih memeluk agama tradisional Marapu. Penduduk yang lain adalah pemeluk Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan sisanya adalah Budha. Kenyataan ini diakibatkan karena masih kuatnya pengaruh adat-istiadat mereka, terutama di kecamatan Kodi, Waijewa Barat dan Waijewa Timur yang hampir setengah penduduknya adalah pemeluk Marapu. Selain itu di kabupaten ini masih terdapat masyarakat terasing, yaitu suku bangsa Gaura di desa Gaura, kecamatan Walakaka, suku bangsa Balikeda di desa Dokakaka, kecamatan Loli dan suku bangsa Lenang di desa Lenang, kecamatan Katikutana.
  
Perekonomian
Sebagian besar penduduk di kabupaten ini bergantung hidup pada sektor pertanian. Karena keadaan tanahnya, tanaman cokelat dan tembakau dapat tumbuh di areal seluas 110 hektar dan 2.280 hektar.
Sektor peternakan juga merupakan nafkah tambahan utama penduduk setempat. Kerbau banyak digunakan dalam pelaksanaan upacara adat, terdapat di kecamatan Kodi, Walakaka dan Katikutana. Selain itu kerbau juga digunakan untuk menggarap tanah pertanian secara tradisional (renca).
  
Budaya
Di daerah ini masih bisa ditemukan daerah-daerah yang memiliki nilai historis, baik dari segi sejarah maupun sosial budayanya. Kampung Kadung Tana, Watu Karagata dan Bulu Peka Mila merupakan daerah yang terdapat makam-makam megalitik. Juga di desa Tarung yang berjarak setengah kilometer dari kota Waikabubak, terdapat makam megalitik yang bercirikan tanduk kerbau dan taring-taring babi yang pada masa lalu merupakan hewan sakral.
Di kampung Makatakeri, desa Anakalang (kini masuk wilayah Kabupaten Sumba Tengah), terdapat makam Raja Anakalang seberat 70 ton. Konon, makam itu dikerjakan oleh 2.000 orang selama tiga tahun. Di kampung Lai Tarung yang terletak di atas gunung, terletak makam nenek moyang 12 klan. Di kecamatan Walakaka sering dilaksanakan acara perang tanding di atas kuda atau pasola pada bulan Maret. Pasola adalah keterampilan menunggang kuda sambil melemparkan tombak kayu berujung tumpul yang di arahkan ke tubuh lawan. Sebelum upacara tersebut berlangsung, diadakan terlebih dahulu acara nyale, yaitu mencari sejenis cacing yang terdapat di antara batu-batu di tepi pantai. Anehnya, cacing-cacing tersebut hanya ada pada saat menjelang subuh kala purnama mulai muncul di bulan Maret. Cacing-cacing berprotein tinggi itu ditangkap untuk kemudian dimakan. Di daerah lain seperti Kodi dan Lamboya (termasuk kecamatan Walakaka) upacara pasola dan nyale biasanya diadakan pada bulan Februari. Dibagian selatan Sumba Barat terdapat Pantai Rua yang berpasir putih yang berjarak sekitar 76 km dari Waikabubak.
Read More >> Kabupaten Sumba Barat

Senin, 02 Januari 2012

Haruskah Menunggu Sampai Sumba Timur = Somalia ???!!!!


Rawan pangan kembali mengancam sejumlah desa di  propinsi NTT, terutama dan terbanyak dialami Kabupaten Sumba Timur.  Harian Kompas tertanggal 20 Agustus 2011, melaporkan bahwa ada 140 desa di Sumba Timur dimana 46.309 jiwa (10.955 kepala keluarga)  mengalami status rawan pangan.
Peristiwa rawan pangan di NTT terutama di Kabupaten Sumba Timur adalah bak “cerita berseri tanpa ujung”. Setiap tahun selalu terjadi secara tetap dan berulang dan berulang kembali. Bahkan di tahun 2011 ini, ancaman ini datang lebih dini.  Menurut bpk mantan kepala desa Pambota Njara, bapak Umbu Maramba Mehang (masih dari laporan harian Kompas tersebut), kalau biasanya rawan pangan baru mulai terjadi pada sekitar bulan-bulan Nopember - Desember, tahun ini baru saja memasuki bulan Agustus warga desanya sudah mengalami kelaparan.

Indikatornya adalah sebanyak hampir 758 keluarga warga desa setempat sudah mulai melaksanakan “ritual tahunan” mereka, yaitu masuk ke hutan untuk mencari “IWI” sejenis  umbi-umbi-an hutan yang terdapat di semak-semak belukar untuk dijadikan sumber makanan (karbohidrat) mereka sebagai pengganti Beras dan atau Jagung. Dan “ini adalah fakta”, bukan data yang “hanya” disusun di dalam ruang kantor saja! tegas beliau.

Sebenarnya, Iwi itu beracun, sehingga untuk dapat  dikonsumsi oleh manusia dengan aman, proses memasaknya harus dilakukan berulang-ulang;  dan sebelum dimasak harus diolah dengan “baik” terlebih dahulu (yaitu: Iwi dikupas, kemudian dipotong / diiris kecil-kecil, dimasukkan ke dalam karung plastik selanjutnya direndam ke dalam air sungai selama dua hari dan dua malam);  karena jika tidak diolah dengan baik dan dimasak dengan benar, maka mengkonsumsi Iwi kerap akan menimbulkan mual, bahkan kematian. Sampai kapankah cerita Rawan Pangan di Sumba Timur ini akan berakhir? Haruskah Ubi Hutan Beracun selalu menjadi bahan utama makanan pokok warga Sumba Timur di saat-saat kelaparan akibat kekeringan berkepanjangan melanda “tanah marapu” ini? Haruskah menunggu sampai kondisi kabupaten Sumba Timur menjadi sama dengan Negara Somalia baru akan ada tindakan nyata yang tidak reaksional serta terkonsep oleh penyelenggara negara untuk mengatasi kerawanan pangan di ini?


sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/22/haruskah-menunggu-sampai-sumba-timur-somalia/

Read More >> Haruskah Menunggu Sampai Sumba Timur = Somalia ???!!!!

Profile Sumba

Peta Sumba
Pulau Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas wilayahnya 10.710 km², dan titik tertingginya Gunung Wanggameti (1.225 m). Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah selatan dan barat.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini sendiri terdiri dari empat kabupaten:
  1. Kabupaten Sumba Barat, 
  2. Kabupaten Sumba Barat Daya,  
  3. Kabupaten Sumba Tengah, dan 
  4. Kabupaten Sumba Timur.  
Kota terbesarnya adalah Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur. Kota tersebut juga terdapat bandar udara dan pelabuhan laut yang menghubungkan Pulau Sumba dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia seperti Pulau Sumbawa, Pulau Flores, dan Pulau Timor.
Sebelum dikunjungi bangsa Eropa pada 1522, Sumba dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Sejak 1866, pulau ini dikuasai oleh Hindia-Belanda dan selanjutnya menjadi bagian dari Indonesia.
Masyarakat Sumba secara rasial merupakan campuran dari ras Mongoloid dan Melanesoid. Sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan animisme Marapu dan agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Kaum muslim dalam jumlah kecil dapat ditemukan di sepanjang kawasan pesisir.

Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas empat kabupaten, Sumba Barat, Sumba barat Daya, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya di tengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih amat hidup di tengah-tengah masyarakat Sumba asli. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (umarato) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata.
Read More >> Profile Sumba