Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

Pulau Seribu Kuda, Sumba

Pernahkah Anda menyaksikan  film cowboy di TV yang sarat dengan adegan aksi kejar-kejaran dia tas kuda?. Para pemain  di film itu akan saling tembak-menembak  dan memacu kudanya secepat-cepatnya. Kuda  kuda handal ditampilkan bersama aktor utama dalam film-film tersebut. Ternyata  kuda-kuda andalan seperti itu bukan hanya ditemukan dibarat saja. Yang menarik,  di negeri  kita sendiri terdapat kuda andalan yang tidak kalah dengan kuda dari barat. Nah kuda - kuda tersebut paling banyak kita temui di Sumba.

Siapa yang tak kenal Sumba? Sumba identik dengan sabana yang luas serta ternak yang berkeliaran bebas di padang rumput. Hamparan ribuan hektar padang sabana tidak saja menjadi habitat pengembaraan hewan, tetapi juga menjadi pesona alam nan indah. Kuda memang segalanya bagi masyarakat Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Hewan ini tidak semata - mata digunakan untuk mengangkut barang, tetapi juga sebagai hewan tunggangan dan pacuan.


Dari berbagai jenis kuda di dunia, kuda Arab dapat dianggap sebagai cikal bakal kuda-kuda yang ada di Sumba saat ini. Kuda di Indonesia dipengaruhi iklim tropis serta lingkungan. Kuda yang terdapat di Sumba dan wilayah Asia Tenggara pada umumnya termasuk ras timur. Berbeda dengan kuda ras Eropa dan Amerika yang memiliki tengkorak lebih besar.

Tinggi badannya berkisar 1,15 - 1,35 meter sehingga tergolong dalam jenis poni. Bentuk kepala umumnya besar dengan wajah rata, tegak, sinar mata hidup serta daun telinga kecil. Ciri-ciri lain, bentuk leher tegak dan lebar. Tengkuk umumnya kuat, punggung lurus dan pinggul kuat. Letak ekornya tinggi dan berbentuk lonjong, dada lebar, sedang tulang rusuk berbentuk lengkung serasi.


Kakinya berotot kuat, kening dan persendiannya baik. Sedangkan bentuk kuku kecil dan berada di atas telapak yang kuat. Jika kuda ini berdiri, akan tampak sikapnya yang kurang serasi (kurang baik), karena kedua kaki bagian muka lebih berkembang bila dibandingkan dengan kaki belakang. Sikap berdiri seperti ini terdapat pada berbagai jenis kuda di Asia Tenggara, termasuk di Sumba. Kuda ini juga memiliki daya tahan (endurance) yang istimewa. Warna rambutnya bervariasi: hitam, putih, merah, dragem, hitam maid (brownish black), bopong (krem), abu-abu (dawuk), atau juga belang (plongko). Dengan bentuk postur tubuh kuda tersebut, maka beberapa masyarakat Sumba menyebutnya Kuda Sandel, atau lebih lengkap kuda Sandalwood pony. Selain itu nama "sandalwood" sendiri dikaitkan dengan cendana ("sandalwood") yang pada masa lampau merupakan komoditas ekspor dari Pulau Sumba dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.

Sampai dengan saat ini, kuda-kuda di Sumba hidup bebas di padang pengembalaan.  Kuda-kuda ini sering digunakan dalam ritual “Pasola” yaitu suatu jenis permainan rakyat yang sangat keras. Dimana dua kubu berlawanan secara adat dengan cara mengendarai kuda, masing-masing memacu kudanya dan saling melempar, menghajar dengan kayu (sola) secara keras di tubuh lawan.


Kuda bagi orang Sumba, awalnya  hanya digunakan sebagai alat transportasi. Namun seiring dengan perkembangan kehidupan orang Sumba, kuda tidak hanya sebagai alat transportasi tetapi juga dipakai sebagai mahar (belis), sebagai cendera mata untuk urusan adat seperti perdamaian dan untuk bawaan saat menghadiri upacara penguburan. Bahkan kuda bagi orang Sumba dianggap sebagai kendaraan leluhur. Bahkan supaya masyarakat selalu ingat akan binatang ini, pemerintah setempat membuat tugu kuda di pusat kota.

Sebuah tantangan berat agar kuda sandelwood tidak punah, atau hanya menjadi barang langka bahkan hikayat yang menjadi perbincangan di masa depan. (wagner-febi supit/FB/bd)


sumber: http://beritadaerah.com/budaya/bali/38233
Read More >> Pulau Seribu Kuda, Sumba

Pasola, Permainan Perang Sumba

Mutya Hanifah - Okezone
JIKA berkesempatan mengunjungi Pulau Sumba, di Provinsi Nusa Tenggara Timur, jangan lewatkan untuk menonton tradisi khas pulau ini, yaitu Pasola.

Pasola adalah permainan perang-perangan antara dua kelompok yang menaiki kuda dan saling melempar lembing di sebuah padang rumput. Pasola berasal dari kata "sola" yang berarti tombak kayu, dan kemudian mendapat imbuhan "pa", sehingga artinya secara harafiah menjadi permainan ketangkasan menggunakan lembing.

Tradisi Pasola ini bermula dari legenda yang berkembang di Pulau Sumba. Menurut cerita, jaman dahulu di pulau ini ada seorang janda cantik yang bernama Rabu Kaba.

Wanita cantik ini sebelumnya adalah istri dari Umbu Dula, salah satu pemimpin warga Waiwuang, salah satu desa di Pulau Sumba. Suatu hari Umbu Dula pergi bersama saudara-saudaranya ke laut, namun mereka tak kunjung pulang. Setelah dicari dan tidak ditemukan, warga sepakat menganggap mereka telah tiada.

Setelah itu, Rabu Kaba yang telah menjadi janda kemudian menjalin kasih dengan Teda Gaiparona, pemuda dari Kampung Kodi. Namun hubungan mereka tidak disetujui oleh Desa Waiwuang. Mereka pun kawin lari ke Kampung Kodi.

Tak lama setelah Rabu Kaba pindah ke Kampung Kodi, Suami pertamanya yang dikira telah meninggal, Umbu Dula, ternyata masih hidup dan telah kembali ke Desa dan mendapati istrinya telah menikah lagi.

Umbu Dula kemudian mendatangi Teda Gaiparona bersama seluruh warga Waiwuang untuk meminta pertanggung jawabannya karena telah membawa lari istrinya.

Setelah berdebat, akhirnya disepakati bahwa Teda Gaiparona harus mengganti mas kawin yang telah diterima Rabu Kaba dari Umbu Dula. Setelah mas kawin dibayar, Teda Gaiparona berpesan kepada warga kedua kampung agar melaksanakan Pasola, tujuannya supaya tidak ada lagi dendam diantara kedua kampung tersebut.

Selain berdasar dari legenda rakyat tersebut, Pasola juga sebenarnya bagian dari ritual kepercayaan agama lokal masyarakat Sumba, Marapu. Ritual Pasola ini menurut kepercayaan Marapu dilakukan setelah pesta adat bau nyale, untuk memohon restu para dewa agar panen tahun tersebut berhasil dengan baik.

Dalam permainan perang-perangan ini, tak jarang ada yang terluka akibat terkena tombak sepanjang 1,5 meter. Namun, darah yang mengucur akibat bermain Pasola justru dianggap bermanfaat bagi kesuburan tanah dan kesuksesan panen. Selain nilai sakral dan tradisional, permainan adat Pasola ini juga merupakan elemen penyatu masyarakat Sumba.

Pasola diadakan di empat kampung di Kabupaten Sumba Barat, yaitu Kampung Kodi, Kampung Lamboya, Kampung Wanokaka, dan Kampung Gaura. Biasanya adat ini dilaksanakan setiap tahun antara bulan februari dan maret, bertepatan dengan upacara adat Nyale. (dikutip dari berbagai sumber)
(rhs)

Read More >> Pasola, Permainan Perang Sumba

Sabtu, 28 Januari 2012

Anggota Paripurna Sumba Timur Gunakan Baju Adat

SUMBA- Anggota DPRD di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), diwajibkan untuk berpakaian adat pada setiap sidang pembukaan dan penutupan sidang. Bahkan jika membangkang, maka akan dikenakan sanksi.

Ketua Badan Kehormatan DPRD Muhamad Zein Bunga menjelaskan, langkah itu sebagai bentuk keprihatinan sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi dan budaya daerah.

“Ini sebagai salah satu upaya untuk melestarikan budaya daerah. Jadi pada saat memasuki masa sidang, khususnya pada saat pembukaan dan penutupan sidang pembahasan anggaran, setiap anggota DPRD juga kalangan eksekutif dan undangan yang hadir saat sidang wajib mengenakan pakaian adat tradisional. Khusus untuk anggota DPRD jika sebanyak tiga kali membangkang akan dikenai sanksi teguran keras, jika sampai enam kali maka sesuai Tatib akan diproses lebih lanjut oleh Badan Kehormatan dan Fraksi,” tegasnya, Kamis (26/1/2012)

Tak hanya itu, para peserta sidang yang membangkang tentunya akan merasa risih dengan peserta sidang lainnya, juga akan ditempatkan pada sisi lain di ruang sidang utama.

Sementara untuk kalangan eksekutif yang mengikuti sidang juga diwajibkan untuk berpakaian adat khas Sumba Timur yang didominasi kain tenun ikat setempat.

“Setiap pimpinan SKPD wajib mengenakan pakaian adat, saat mengikuti sidang DPRD. Jika melanggar, saya akan beri teguran keras. Hingga kini kami masih merancang aturan dan sanksi yang lebih keras bagi eksekutif yang melanggar. Selain tentunya sanksi moral dari masyarakat yang akan menilai figure yang bersangkutan tidak mencintai budaya dan kekahasan daerahnya,” tandas Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilidjora, kala dimintai penjelasannya usai pelaksanaan sidang.

Sejumlah pihak yang ditemui terpisah untuk dimintai tanggapannya mengungkapkan dukungannya hampir senada. Yakni adanya makna yang bisa dipetik berupa semangat untuk melestarikan budaya. Hingga tidak hanya diwajibkan dan didengungkan oleh petinggi negeri kepada rakyat dan kaum muda, namun juga mau memberi contoh konkret.

Eksekutif dan legislatif Sumba Timur, kali ini menunjukan contoh pada rakyat untuk tetap bangga dengan budaya dan tradisinya, tidak menginginkan penggantian toilet, sekalipun toilet DPRD tidak terlampau bersih, dan telah termakan usia. Tidak menjadi sebuah masalah asalkan masih bisa digunakan.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/crl)
Read More >> Anggota Paripurna Sumba Timur Gunakan Baju Adat

Minggu, 22 Januari 2012

Banjir di Sumba Rusak Jagung dan Hanyutkan Ternak Warga

SUMBA - Banjir di Kelurahan Temu dan Dusun Tai Manu, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT,  menghancurkan puluhan hektar kebun jagung milik warga. Tak hanya itu, puluhan ternak babi dan kambing milik warga ikut hanyut terbawa banjir.

Warga terkejut, kebunnya hancur karena banjir yang datang begitu tiba-tiba. Padahal hujan yang tidak terlalu deras turun hanya dalam waktu satu jam. “Banjir datang tiba-tiba. Saat itu saya masih di kebun habis bersihkan rumput di kebun jagung. Tiba tiba ada bunyi gemuruh. Ternyata air datang dari atas dan bawa kayu-kayu besar. Saya sempat terbawa banjir namun untung tersangkut di pohon dan ditolong warga lain. Tapi jagung dan ubi kayu saya rata tanah,” ujar Ama Nai, Kamis (19/1/2012).

Tak hanya kebun jagung  dan palawija yang masih berusia tidak lebih dari sebulan yang rusak. Warga juga mengeluhkan ternak babi, kambing dan ayam mereka yang hanyut kelaut terbawa banjir bandang yang berlangsung cepat tak lebih dari 30 menit.

Pemerintah setempat, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilidjora, berjanji akan secepatnya memberikan bantuan darurat bagi warga yang terkena dampak banjir.

“Saya telah minta BPBD untuk mendata dan secepatnya memberikan bantuan darurat berupa beras dan mie instat serta ikan kaleng kepada warga yang terkena musibah ini. Kini bantuan dalam perjalanan kemari. Data sementara yang saya peroleh, sebanyak lebih dari 40 KK atau  lebih  dari 200 jiwa perlu segera dibantu,” jelas Gidion.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/fer)
Read More >> Banjir di Sumba Rusak Jagung dan Hanyutkan Ternak Warga

Polisi Pemukul Penjual Ikan Dihukum 7 Hari di Sel

Warga menonton video anarkis oknum polisi
SUMBA - Brigadir satu (Briptu) Polisi MPH pelaku pemukulan terhadap Hafid Harun (32), seorang penjual ikan, di kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT,  akhirnya menjalani sidang disiplin.

Briptu MPH, anggota satuan lalu lintas (Satlantas) Polres Sumba Timur ini, diperhadapkan pada sidang disiplin dan kode etik, di aula Mapolres setempat, karena sesuai hasil pemeriksaan dan penyidikan propam, terbukti melakukan tindakan yang menjatuhkan martabat polri, juga merugikan masyarakat yang semestinya dilindungi dan diayomi.

Sidang yang dipimpin oleh Wakapolres Sumba Timur, Kompol. Nugroho A.S, itu akhirnya menjatuhkan hukuman disiplin berupa penahanan di ruang khusus selama 7 hari dan penundaan mengikuti pendidikan bagi terdakwa.

Terdakwa di depan pimpinan sidang disiplin dan kode etik,  menyatakan menerima dan siap menjalani sanksi disiplin yang dijatuhkan oleh pimpinan sidang.

Adapun hal yang meringankan terdakwa yakni, yang bersangkutan mengakui perbuatannya, dan secara proaktif telah secara pribadi meminta maaf atas kekhilafannya, setelah peristiwa pemukulan terjadi. Juga  korban pemukulan dan keluarganya telah secara ihklas memberi maaf.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/fer)
Read More >> Polisi Pemukul Penjual Ikan Dihukum 7 Hari di Sel

Kamis, 19 Januari 2012

Warga Sumba Tak Bebas Lagi Bawa Parang Sembarangan

Stiker larangan membawa parang
SUMBA BARAT - Senjata tajam (sajam), khususnya parang, sangat identik dengan budaya warga di Pulau Sumba, khususnya di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak hanya dalam upacara adat parang dilekatkan di pinggang, dalam kehidupan sehari-hari pun barang berbahaya itu tidak lepas dari pinggang warga. Kebiasaan disadari atau tidak menimbulkan potensi konflik.

Warga sering kali dengan mudahnya menghunuskan parang dan menebas lawan hanya karena emosi sesaat.

Kapolres Sumba Barat AKBP Lily Aprianto mengatakan, akibat budaya membawa parang sudah korban berjatuhan.

“Sudah banyak jatuh korban, pada Desember 2011 saja sudah empat orang tewas. Semuanya karena tebasan parang. Kasus ini bermotifkan dendam, sakit hati, dan emosi sesaat,” ujar Aprianto, Selasa (17/1/2012).

Untuk itu, pihaknya secara terus menerus mengimbau warga tidak membawa sajam di tempat-tempat tertentu. “Kami juga akan menggelar razia dan sosialisasi pada warga dengan imbauan keliling dan penempelan stiker di tempat umum,” jelas Aprianto.

Polisi sudah melakukan sosialisasi dengan menempelkan stiker di rumah sakit, pasar, pertokoan, terminal, dan tempat umum lainnya. Stiker yang ditempelkan selain berisi larangan, juga sanksi hukum bagi pelanggarnya yakni 10 tahun penjara, sesuai Undang-Undang Darurat Tahun 1951.

Langkah preventif ini mendapat respons positif dari warga. “Terus terang saya takut dan cemas. Hampir setiap hari saya lihat orang seliweran dengan parang di pinggang, bahkan ditenteng. Saya harap aparat bertindak tegas. Apalagi beberpa waktu lalu pernah ada yang saling tebas di depan kios saya,” jelas Rahma, seorang warga pendatang yang sehari-hari berjualan kelontong di Pasar Inpres Kota Waikabubak.

“Saya dukung pemerintah dan polisi. Asalkan jangan melarang kami membawa parang kalau pergi ke sawah atau kebun juga kalau ada urusan adat. Kalau di tempat umum boleh disita,” timpal Bada, warga asli Pulau Sumba yang saat temui masih memgegang parang.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/ton)
Read More >> Warga Sumba Tak Bebas Lagi Bawa Parang Sembarangan

Senin, 16 Januari 2012

Tabrakan Motor Vs Kuda Pacu, 1 Orang Tewas

SUMBA TIMUR - Tidak seperti di kota besar, di mana kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi di antara sesama pengendara motor, di Kota Waingapu,  Kabupaten Sumba Timur, NTT, pagi tadi, terjadi Lakalantas yang berbeda.

Yaitu antara pengendara sepeda motor dengan kuda pacu. Dalam insiden ini, seorang ibu tewas dan kuda pacunya patah tulang kaki serta menderita luka-luka. Adalah Senita Desenori (46) selepas mengantar anaknya ke sekolah dan berbelanja, harus meregang nyawa, setelah sepeda motor yang dikendarainya menabrak seekor kuda pacu yang tiba-tiba memotong ruas Jalan WZ Johanes, yang dilaluinya.

Meski sempat diberikan pertolongan pertama dan dibawa ke rumah sakit terdekat, nyawa ibu paruh baya ini akhirnya tak tertolong. Kini jenazahnya disemayamkan di kediamannya. Beberapa saat setelah kejadian, aparat lantas Polres Sumba Timur, langsung menuju lokasi dan melakukan olah TKP.

Sementara barang bukti kuda pacu yang terlibat dalam Lakalantas ini dititipkan dengan pengawasan aparat di rumah pemiliknya. Sedangkan barang bukti sepeda motor milik korban dibawa ke Mapolres guna proses hukum lebih lanjut.

“Jadi kudanya tidak diikat sempurna oleh pemiliknya. Saat sang ibu melintas pagi tadi selepas mengantar anaknya ke sekolah, tiba-tiba muncul kuda memotong jalan korban. Kaget dan tidak lagi mampu mengedalikan motornya hingga menabarak kuda. Korban jatih di badan jalan. Sempat diberikan pertolongan pertama dan dibawa ke rumah sakit namun nyawa korban tak tertolong. Kemungkinan karena darah dari lukanya dibagian kepala cukup banyak,” jelas Iptu. Anggara Rustamyono, Kasat Lantas Polres Sumba Timur, saat ditemui usai melakakan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sementara itu, Feddy Tawa, pemilik kuda yang ditemui disekitar TKP, mengaku bahwa kuda pacu miliknya baru selesai dimandikan oleh pengerjanya. Lalu diikat sementara di pagar tetangga. “Kuda itu sebenar terikat setelah dimandikan oleh perawat kuda yang kerja di saya. Di ikat cukup kuat  di bale- bale. Namun kemudian oleh temannya dipindahkan dan dikat di bunga. Mungkin  ikatannya tidak kuat jadi lepas dan jadinya begini,” jelasnya.

Lakalantas yang  melibatkan pengendara kendaraan bermotor dengan ternak acapkali terjadi di Kabupaten Sumba Timur, akibat dari pola beternak  para pemilik ternak yang seiring melepas liar ternak, atau diikat serampangan, hingga sering lepas kontrol.

Kasus serupa sejatinya tidak sering terjadi, jika Peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang penertiban ternak, dan telah disahkan DPRD setempat, benar-benar di tegakkan secara optimal oleh pemerintah setempat.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/ful)
Read More >> Tabrakan Motor Vs Kuda Pacu, 1 Orang Tewas

Minggu, 15 Januari 2012

Lulus, Murid SD di Sumba Timur Tak Terima Ijazah

SUMBA- Meski telah dinyatakan lulus pada tahun lalu, hingga kini hampir 300 murid pada dua puluhan Sekolah dasar (SD) di Sumba Timur, NTT, belum juga menerima ijazahnya. 

Kondisi itu dibenarkan oleh Obed Hilungara, Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dinas PPO) Kabupaten Sumba Timur.

“Itu benar adanya. Ada beberapa sekolah yang Kepala Sekolahnya telah pensiun sejak Mei tahun 2011 lalu. Dan itu telah kami usulkan penggantinya sejak bulan Juni. Namun hingga sekarang masih belum juga ditetapkan penggantinya secara defenitif. Untuk tidak mengganggu proses belajar mengajar kami sementara tetapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah,” urai Obed.

Lebih jauh dijelaskan Obed, situasi ini sejatinya tidak sampai terjadi, jika mutasi para Kepsek lebih cepat diproses. Menurutnya, kelengkapan para guru yang diusulkan untuk menjadi Kepsek defenitif telah dimasukan sejak Juli tahun lalu ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumba Timur.

“ Diharapkan bulan Agustus lalu atau paska lebaran, sekolah-sekolah itu telah memiliki Kepsek defenitif hingga bisa menandatangani Ijazah para siswa. Namun kenyataannya hingga kini belum juga terealisir.  Imbasnya tentu para murid yang telah lulus yang menjadi korbannya. Mereka hingga kini belum jua menerima ijazah.

Ketika melanjutkan pendidikannya ratusan murid itu hanya dibekali dengan surat keterangan lulus saja,” pungkas Obed.

Ditemui terpisah, Kepala BKD Sumba Timur, Lu Pelindima, tidak menampik hal itu. “ Benar adanya itu. Namun dalam waktu dekat, kami akan segera memprosesnya,” tukasnya singkat.  

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/crl) - okezone.com
Read More >> Lulus, Murid SD di Sumba Timur Tak Terima Ijazah

Sabtu, 14 Januari 2012

Kapolda NTT Minta Polisi Brutal Ditindak Tegas

SUMBA TIMUR - Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen (Pol) Ricky Sitohang meminta Kapolres Sumba Timur, AKBP I Made Dharmadi Giri menuntaskan kasus penganiayaan terhadap warga yang dilakukan polisi.

Ricky meminta Kapolres segera menggelar sidang disiplin dan memberi sanksi tegas kepada polisi yang menganiaya Hafid Harun (32), penjual ikan di Pasar Inpres Waingapu.

Hal itu disampaikan Ricky Sitohang saat melakukan kunjungan kerja ke Sumba Timur, Rabu (11/1/2012). Dalam kesempatan tersebut, Kapolda juga meminta maaf kepada korban pemukulan yang diundang khusus untuk hadir dalam pertemuan.

”Saya mohon maaf kepada korban dan keluarganya atas perilaku tidak terpuji anggota saya. Saya juga tegaskan agar jangan sampai kejadian serupa terjadi. Dan kepada oknum yang bersangkutan telah saya minta Kapolres untuk dalam waktu seminggu menuntaskan kasus ini dengan melakukan pemeriksaan, sidang disiplin hingga pemberian sanksi dan bila perlu ditahan selama 21 hari,” tegasnya.

Sebelumnya, Kapolres Sumba Timur bersama jajarannya telah berkunjung ke rumah Hafid Harun (32),  korban perilaku brutal oknum satuan lalu lintas berinisial M. Kapolres meminta maaf dan berdialog dengan masyarakat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Perpolisian Masyarakat (FKPM) kelurahan Kemala Putih, kecamatan Kota Waingapu.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/fer) - okezone.com
Read More >> Kapolda NTT Minta Polisi Brutal Ditindak Tegas

Kamis, 12 Januari 2012

Kapolres Sumba Timur Akui Anak Buahnya Aniaya Hafid

Hafid Harun, korban penganiayaan polisi
WAINGAPU - Kapolres Sumba Timur, AKBP Made Dharmadi secara legowo mengakui perilaku anak buahnya yang menganiaya Hafid Harun (32), penjual ikan di Pasar Inpres Waingapu.

Dia menjelaskan, penganiayaan yang dilakukan oknum polisi tersebut tidak patut ditiru. Dia memastikan hari ini juga akan membawa para pelaku dan jajarannya untuk datang ke rumah korban.

Langkah ini ditempuh sebagai bentuk simpati juga kembali menjalin silaturahim jajarannya dengan korban, khususnya, dan warga, pada umumnya.

Hafid Harun, korban penganiayaan, yang ditemui terpisah menyambut baik niat damai yang dikemukakan Kapolres Sumba Timur. Karena terharu, Hafid meneteskan air mata.

Air mata yang mengalir diakuinya sebagai bentuk kelegaan hatinya karena polisi nomor satu di Sumba Timur itu menuhi harapannya.

“Jika Pak Kapolres mau datang langsung bersama anggotanya yang memukul saya untuk memohon maaf secara langsung, saya juga manusia yang punya hati, pasti akan menerimanya. Apalagi jika mereka turut meminta maaf pada keluarga, saya yakni kakak dan mama saya terima permohonan maaf itu,” tuturnya terpisah.

“Saya juga berterima kasih juga buat kawan dan saudara wartawan yang turut mengangkat persoalan ini,” jelasnya dengan terbata-bata seraya meneteskan air mata haru.

Aksi pemukulan yang dilakukan polisi saat malam tahun baru lalu, menarik simpati rekan korban. Perkumpulan pedagang ikan di Pasar Inpres Waingapu meminta agar Kapolres Sumba Timur menindak anggota yang bersalah, dan mereka berharap kasus ini tidak kembali terulang lagi.

“Kami berharapa kasus ini tidak lagi terulang. Tidak hanya pada kami dan rekan kami sesama penjual ikan, namun juga kepada masayarat kecil lainnya. Jika masih terjadi, kiranya pelaku dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Chenk, perwakilan pedagang, dan diamini sejumlah rekan penjual ikan lainnya.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/kem) - okezone.com
Read More >> Kapolres Sumba Timur Akui Anak Buahnya Aniaya Hafid

Senin, 09 Januari 2012

Empat Anak Tertimbun Longsor, Satu Tewas

Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
SUMBA TIMUR - Hujan dan angin kencang yang melanda Kabupaten Sumba Timur, NTT, sepekan terakhir berujung jatuhnya korban jiwa. Seorang anak usia delapan tahun tewas tertimbun tanah longsor, saat sedang bermain bersama tiga temannya di pinggiran tebing bekas galian di belakang sebuah rumah kosong.

Korban bernama Saputra Umbu Borang, bocah kelas tiga SD Inpres Papindung. Dia merupakan warga RT 14 RW 04 Kelurahan Mauliru, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur.

Kejadian berawal saat anak-anak ini sedang bermain selepas hujan berhenti. Mereka bermain di sekitar tebing bekas galian, tanpa memperkirakan terjadinya bencana. Saputra bersama sejumlah temamanya tertimbun, nyawa temannya berhasil tertolong, namun Saputra, saat ditemukan sudah tak bernyawa.

Ama Josua, saksi mata yang ditemui di sekitar lokasi menjelaskan bahwa kejadian berlangsung begitu cepat. Bahkan anaknya sempat juga tertimbun. "Ada teriakan dari ibu-ibu yang berkerumun disekitar TKP. Saat saya tiba, saya bersama warga lainnya hanya menggunakan tangan kosong angkat anak-anak. Namun Saputra saat ditemukan penuh darah di hidung, mulut, dan telinga. Kami bawa ke rumahnya untuk kemudian dimandikan dan disemyamkan," jelasnya.

Adapun jenasah korban hingga kini masih disemayamkan di rumah duka, dengan diringi isak tangis orangtuanya, Martha Rundi dan Yonathan Horo.

Sementara itu, Suryadi (7), teman bermain korban yang mengalami patah tulang belakang, hingga kini masih terus dirawat intensif di Rumah Sakit Kristen Lindimara. Adapun temannya yang lain telah diperkenankan pulang oleh pihak rumah sakit.

Tak hanya longsor, warga Sumba Timur juga harus terus waspada angin puting beliung dan banjir yang sewaktu-waktu bisa menyerang permukiman. Terdata dalam sepekan ini, delapan rumah rusak berat dilanda puting beliung. Sementara sebuah jembatan ambruk oleh banjir bandang. Akibatnya lebih dari 20 ribu jiwa warga Kecamatan Ngadu Ngala, Kabupaten Sumba Timur, hingga kini masih terisolir.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/ful)
Read More >> Empat Anak Tertimbun Longsor, Satu Tewas

Selasa, 03 Januari 2012

Moratorium untuk Sumba Timur Perlu Diperpanjang

By: Agust Dapa Loka

Kalau pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan moratorium hingga 2013 (mudah-mudahan saya benar), pikir saya adalah sebuah sikap bijaksana. Kebijakan ini tentu tidak usah kita pandang sebagai sebuah sikap “menutup jalan hidup” generasi yang sedang tepat harus menggunakan waktu-waktu ini untuk mencari peluang kerja sebagai PNS. Memang tentu dapat diakui bahwa kebijakan ini tidak harus tepat bagi daerah-daerah yang sangat membutuhkan tenaga baru dalam status PNS.
Sebagai anggota masyarakat di sebuah kabupaten terpencil “Sumba Timur”, ketika mendengar pemberlakuan moratorium, saya spontan mengatakan, “Ini Kebijakan Bagus”. Apa pasalnya?
  1. Hampir setiap hari PNS di wilayah Sumba Timur (Kota Kabupatennya) cuma wira-wiri di jalanan.
  2. Kalau kita berurusan dengan para pegawai di kantor-kantor, nyaris sulit kita dapati kantor dihuni oleh pegawai yang sedang sibuk bekerja, bahkan tidak jarang dijumpai para pegawai yang ada, asik bermain game. Urusan dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan terulur-ulur.
  3. Kebanyakan pegawai di kantor-kantor susah masuk kantor tepat waktu tapi pulang ke rumah lebih awal.
  4. Gaya kerja kebanyakan pegawai dalam berurusan dengan instansi di bawahnya, adalah gaya feodal.
  5. Tingkat loyalitas terhadap pimpinan rendah. Semua bergaya “sok bisa”
  6. Jika saja ada pegawai yang rajin bekerja, lebih banyak dianggap sebagi “penjilat”
Nah, kalau begini keadaannya, untuk apa tambah-tambah pegawai yang nantinya sekedar turut memadati ruang kantor. Dan boleh jadi, mereka yang baru itu (kalau terbuka penerimaan pegawai negeri sipil yang baru) akan mengalami pengeroposan idealisme kerjanya.Kebijakan ini memberi tenggang waktu yang baik untuk digunakan para pimpinan membenahi kinerja para pegawai yang saat ini sedang berkarya aktif. Saudara-saudari yang hendak menyusul, baiklah sementara ini mengasah perjuangan untuk masuk ke dunia swasta yang saya anggap mampu memberi penguatan atas idealisme kerja yang sedang menggebu-gebu. Mari kita berjuang bersama melindungi negara ini dari upaya-upaya pengeroposan dengan cara mempekerjakan orang yang nyata-nyata sekedar mendapat legitimasi oleh pakaian dinas untuk dianggap layak mendapat upah yang  tidak sedikit jumlahnya.
Ide ini jelas akan diserbu habis-habisan. Tapi jika dengan jujur kita membuat refleksi, kenyataan ini akan mengundang kita (walau secara diam-diam) untuk manggut-manggut. Memang moratorium itu adalah dilema, sebab berkibat tidak sedikit terhadap angkatan kerja yang sedang mencari peluang. Inilah kenyataan ketika sebuah angkatan terdahulu menutup kesempatan bagi yang lain dengan etos kerja yang kurang menguntungkan.
Pertanyaannya, apakah lucu jika dalam perjalanan kerjanya seorang pegawai negeri sipil yang nyata-nyata tidak menunjukkan prestasi kerja ditinjau ulang  kepegawaiannya? Harus ada shock therapy untuk menegakkan displin dan produktivitas kerja. Mungkin sudah mendesak bahwa seluruh perkantoran diperlengkapi dengan CCTV sehingga dengan mudah pimpinan memonitor gerak kerja di setiap ruang kantor.
Pak Bupati Sumba Timur, kalau sempat baca tulisan ini, “jangan marah ya”. Pak Bupati, yakinlah ketika pak Bupati melakukan kunjungan ke luar baik ke wilayah-wilayah kecamatan bahkan desa ataupun ke luar daerah, di belakang pak Bupati, banyak orang bergembira. Para pegawai kan sudah punya informasi tentang jadual tugas luar pak Bupati. Diam-diam para pegawai sudah turut merencanakan untuk masuk-keluar kantor sesuai kebutuhan masing-masing. Hahahaiiiya, kasihan dana negara yang digunakan untuk membayar para penganggur.


sumber: http://politik.kompasiana.com/2011/12/30/moratorium-untuk-sumba-timur-perlu-diperpanjang/
Read More >> Moratorium untuk Sumba Timur Perlu Diperpanjang

Senin, 02 Januari 2012

Haruskah Menunggu Sampai Sumba Timur = Somalia ???!!!!


Rawan pangan kembali mengancam sejumlah desa di  propinsi NTT, terutama dan terbanyak dialami Kabupaten Sumba Timur.  Harian Kompas tertanggal 20 Agustus 2011, melaporkan bahwa ada 140 desa di Sumba Timur dimana 46.309 jiwa (10.955 kepala keluarga)  mengalami status rawan pangan.
Peristiwa rawan pangan di NTT terutama di Kabupaten Sumba Timur adalah bak “cerita berseri tanpa ujung”. Setiap tahun selalu terjadi secara tetap dan berulang dan berulang kembali. Bahkan di tahun 2011 ini, ancaman ini datang lebih dini.  Menurut bpk mantan kepala desa Pambota Njara, bapak Umbu Maramba Mehang (masih dari laporan harian Kompas tersebut), kalau biasanya rawan pangan baru mulai terjadi pada sekitar bulan-bulan Nopember - Desember, tahun ini baru saja memasuki bulan Agustus warga desanya sudah mengalami kelaparan.

Indikatornya adalah sebanyak hampir 758 keluarga warga desa setempat sudah mulai melaksanakan “ritual tahunan” mereka, yaitu masuk ke hutan untuk mencari “IWI” sejenis  umbi-umbi-an hutan yang terdapat di semak-semak belukar untuk dijadikan sumber makanan (karbohidrat) mereka sebagai pengganti Beras dan atau Jagung. Dan “ini adalah fakta”, bukan data yang “hanya” disusun di dalam ruang kantor saja! tegas beliau.

Sebenarnya, Iwi itu beracun, sehingga untuk dapat  dikonsumsi oleh manusia dengan aman, proses memasaknya harus dilakukan berulang-ulang;  dan sebelum dimasak harus diolah dengan “baik” terlebih dahulu (yaitu: Iwi dikupas, kemudian dipotong / diiris kecil-kecil, dimasukkan ke dalam karung plastik selanjutnya direndam ke dalam air sungai selama dua hari dan dua malam);  karena jika tidak diolah dengan baik dan dimasak dengan benar, maka mengkonsumsi Iwi kerap akan menimbulkan mual, bahkan kematian. Sampai kapankah cerita Rawan Pangan di Sumba Timur ini akan berakhir? Haruskah Ubi Hutan Beracun selalu menjadi bahan utama makanan pokok warga Sumba Timur di saat-saat kelaparan akibat kekeringan berkepanjangan melanda “tanah marapu” ini? Haruskah menunggu sampai kondisi kabupaten Sumba Timur menjadi sama dengan Negara Somalia baru akan ada tindakan nyata yang tidak reaksional serta terkonsep oleh penyelenggara negara untuk mengatasi kerawanan pangan di ini?


sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/22/haruskah-menunggu-sampai-sumba-timur-somalia/

Read More >> Haruskah Menunggu Sampai Sumba Timur = Somalia ???!!!!