Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

Mengintip Pembuatan Rumah Adat Sumba

By: Joko Hendarto
Sepasang Rumah Adat Sumba, Ratenggaro, Kodi, SBD
Dua hari yang lalu saya diajak seorang rekan menyaksikan prosesi pembuatan rumah adat sumba di kampung Ratenggaro, Kodi, Sumba Barat Daya. Ratenggaro sering dilafalkan jadi “Ratenggarong”, sebuah pelafalan yang keliru kata teman saya. Harusnya, “Ratenggaro atau Rategaura”, rate berarti kuburan dan Gaura adalah tempat asal orang pertama yang menghuni kampung itu.
Ratenggaro atau Rategaura adalah salah satu kampung tua di wilayah Kodi. Kini kampung itu dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata, selain rumah-rumah adat yang berbentuk menara, kampung itu pun terletak dekat dengan pantai yang begitu indah dengan pasir putihnya. Dulunya kata teman saya, kampung mereka berada tepat dipinggir pantai, namun karena pengaruh abrasi, maka kampung itu pun dipindahkan agak kedalam. Itu pun katanya melalui prosesi dan upacara adat yang luar biasa ramainya. Makanya jangan heran melihat kuburan batu yang pas di pinggir pantai, ternyata dulu itu adalah bekas kampung.

Kerangka Rumah Adat dari Bambu dan Kayu Bulat

Rumah adat bisa dikatakan sebagai sentral kehidupan orang Sumba, segala hal yang terkait dengan adat biasanya akan dikonsultasikan kepada tokoh adat dan kepercayaan “Marapu” yang biasanya tinggal di salah satu rumah di kampung adat seperti Ratenggaro ini. Rumah adat Sumba biasanya berbeda dengan rumah biasa. Berbentuk menara, dan disana biasanya ada tanduk kerbau di simpan juga tengkorak babi yang pernah dikorbankan saat upacara. Bahkan konon dahulu kala, kepala musuh yang berhasil dipenggal saat perang juga disimpan di langit-langit rumah adat. Hal yang tentunya tak akan lagi kita temukan sekarang.
Membangun rumah adat baru ternyata bukan prosesi yang mudah. Semuanya harus melewati serangkaian upacara yang rumit. Bahkan menyiapkan bahan-bahan bangunan untuk rumah itu pun tidak boleh sembarangan. Rumah menara setinggi 20 meter ini umumnya terbuat dari bambu bulat dengan tiang penyanggah yang juga terbuat dari kayu bulat. Orang-orang lokal menyebutnya “kayu kadimbil” berusia tua. Atapnya tak boleh dari bahan lain selain alang-alang.

Gotong Royong Mengatapi Rumah
Saya kadang membayangkan betapa susahnya membuat kontruksi rumah adat setinggi 20 meter itu tanpa menggunakan paku dan kayu lain selain bambu untuk rangka atap. Kata teman saya tidak boleh menggunakan paku dalam pembuatan rumah adat. Semua bahan mulai dari atap dan lainnya diikat dengan tali dari semacam kulit pohon yang kuat. Di bagian atap, rangkanya murni dari bambu, penambahan bahan lain dari kayu harus mendapat izin dulu dengan melakukan upacara dimana disana harus ada kurban hewan.
Saat saya berkunjung, ada dua rumah adat yang hendak dibangun. Katanya ada donatur dari Jakarta yang berbaik hati membiayai pembangunan rumah itu. Sepasang rumah, dianggap sebagai representasi laki-laki dan perempuan. Kalau ditaksir bisa jadi memakan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk setiap rumah lengkap dengan kerbau dan babi yang akan dipotong untuk memberi makan para pekerja dan anggota keluarga dari rumpun kampung itu yang datang berkunjung.

Beberapa Orang Membantu Melemparkan Alang
Sangat terasa sekali kemeriahan dan  nuansa kegotongroyongan dalam pembangunan rumah adat itu. Saya paling suka teriakan mereka bersahut-sahutan untuk saling menyemangati. Beberapa orang melemparkan alang yang telah diikat dari bawah rumah dengan riang, lalu ditangkap oleh mereka yang telah berada diatas kerangka atap untuk diikatkan. Gong dan tambur tradisional pun tak henti dibunyikan, menambah semarak acara itu. Bahkan ada yang beberapa orang yang menari sambil mengayun-ayunkan parang mengikuti irama gong dan tambur sambil berteriak-teriak dalam bahasa Sumba. Mungkin memberi semangat para pekerja untuk cepat menyelesaikan pekerjaannya.

Salah Satu Hewan yang Akan Dikurbankan
Uniknya, sebelum seluruh rumah adat itu diatapi, orang tak boleh makan, hewan belum boleh dipotong, hanya boleh minum kopi yang telah disediakan tuan rumah. Bukan cuma untuk pekerja namun untuk seluruh orang dan tamu yang hadir di tempat itu. Saat saya meninggalkan pembuatan rumah itu sore hari, rumah belum juga diatapi, jadi mungkin mereka makan sore atau malam harinya.
Menarik mendapat kesempatan menyaksikan pembuatan salah satu rumah adat Sumba ini, kata teman saya rumah yang satunya akan mulai diatapi dengan upacara serupa awal November nanti. Jika saat itu anda kebetulan di sumba, tak ada salahnya berkunjung dan menyaksikannnya secara langsung. Salam dari Sumba. 
 
 
sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/25/mengintip-pembuatan-rumah-adat-sumba/
Read More >> Mengintip Pembuatan Rumah Adat Sumba

Gaya Tenun Sumba

Wilayah timur Nusantara yang eksotis, selain terkenal dengan keindahan alam bawah laut dan hasil laut berupa mutiara yang elok, rupanya juga mempunyai kekayaan budaya berupa kain tradisional yang dibuat dengan cara menenun.
Kain tenun Sumba, secara garis besar dibagi menjadi Hinggi yaitu kain untuk pria dan dan Lau Pahikung yaitu kain untuk wanita. Selain itu, warna kain tenun Sumba juga sedikit banyak dipengaruhi oleh lokasi. Di Sumba Timur, biasanya kain tenun berwarna dasar hitam dengan motif berwarna, sementara di Sumba Barat, kain tenun berwarna dasar biru tua dengan motif berwarna.

Kain Sumba
Seperti daerah lain di Nusantara, pada masa lampau, kain Tenun Sumba mempunyai peranan cukup penting dalam kultur adat masyarakat Sumba. Selain sebagai busana sehari-hari, kain tenun Sumba juga dipakai dalam tari-tarian pada pesta/upacara adapt, sebagai mas kawin, juga digunakan ketika ada upacara kematian. Ketika seseorang meninggal, terlebih jika ia seorang Raja atau keturunannya, ketika dikubur, jasadnya harus dibebat dalam ratusan kain Tenun dalam posisi meringkuk, barulah jasadnya dikuburkan. Selain hal-hal tersebut, kain tenun Sumba juga digunakan untuk alat tukar dan pembayaran denda. Motif dan warna tertentu dalam kain Tenun, juga menunjukan strata sosial pemakainya, juga sebagai lambing penghargaan terhadap suku, yang diharapkan dapat menghindarkan mereka dari gangguan alam, bencana, roh-roh jahat dan hal-hal buruk lainnya. Kain tenun juga digunakan untuk penghargaan kepada tamu yang datang dari wilayah lain, sebagai penghormatan.
pemakaian Hinggi dalam sebuah upacara adat
 Keindahan kain Tenun Sumba, tidak lepas dari teknik pembutan dan motif yang ditampilkan. Pada pembuatan Hinggi, benang Lusi (warp) diikat untuk memperoleh desain gambar ketika benang tersebut dicelup pewarna. Setelah proses pencelupan, kain dikeringkan kemudian proses diteruskan dengan membuka kalita (tali ikatan) pada pola yang diharapkan akan dicelup warna berikut. Dua warna pada sebuah kain dengan motif tertentu dibentuk dengan cara mengubah posisi yang diikat.

Karena proses pengikatan ini ketika pencelupan, larutan pewarna meresap sampai ke pinggir benang yang terikat dan membuat warna menjadi sedikit membaur. Nah, ‘cacat’ inilah yang menjadi ciri khas motif ikat.
Sementara itu pada pembuatan Lau (sarung) motif disulamkan pada bagian bawah sarung. Proses pembuatan dengan menggunakan lidi untuk membantu menata benang dan motif.
Motif kain tenun Sumba, benar-benar menjadi simbol dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Terbagi dalam motif manusia, motif binatang, motif geometris dan motif kontemporer. Misalnya pada motif binatang, ayam menjadi perlambang kehidupan wanita ketika berumah tangga. Kuda menjadi lambing kekuatan dan kejantanan, sementara burung kakaktua yang berkelompok menjadi lambang persatuan dan musyarawah dalam adat.
Tak beda dengan kain tradisional Nusantara lainnya, di masa sekarang kain Tenun Sumba memiliki warna dan corak yang jauh lebih beragam. Hal ini tidak lepas dari pilihan bahan pewarna yang lebih beragam. Pada masa yang lampau warna kain Tenun Sumba terbatas pada warna-warna gelap seperti hitam, coklat dan merah tua yang berasal dari zat warna nabati seperti tauk, mengkudu, kunyit dan tanaman lainnya. Sementara untuk benang menggunakan warna putih, kuning langsat dan merah maroon. Meskipun sudah mulai banyak memakai pewarna kimia yang lebih tahan luntur, tahan sinar dan tahan gosok, namun beberapa pengrajin masih tetap menggunakan zat warna nabati dalam proses pewarnaan benang sebagai konsumsi adat, dan untuk ketahanan masih digunakan minyak dengan zat lilin. 



sumber: http://fashionesedaily.com/blog/2010/02/11/pesona-kain-nusantara-gaya-tenun-sumba/
Read More >> Gaya Tenun Sumba

Sabtu, 28 Januari 2012

Puisi: Beri Daku Sumba

BERI DAKU SUMBA

Oleh Taufiq Ismail

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bila mana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat-asam panas mulai dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa-nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak berkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah-padam, membenam di ufuk yang teduh
 
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Read More >> Puisi: Beri Daku Sumba