Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

"Jantung" Kehidupan Orang Sumba

Oleh: Kornelis Kewa Ama

Kampung Adat Bukabhani di Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya
Kampung adat di Sumba diyakini sebagai kampung para leluhur. Kampung ini memiliki kekuatan supernatural. Segala kegiatan yang melibatkan warga berawal dari rumah kepala kampung yang disebut rumah rato yang terletak di tengah kampung. Rumah adat itu ibarat ”jantung” kehidupan warga Sumba.
Di tengah dan pinggir kampung terdapat kubur batu megalitik. Batu-batu untuk penguburan leluhur ini diambil dari batu alam asli. Batu-batu itu berbentuk ceper tak beraturan, berlumut dan kehitaman. Di atas batu tersebut diletakkan sirih, kapur, dan pinang untuk leluhur. Batu-batu ini adalah kuburan leluhur yang meninggal ratusan tahun silam.
Tidak semua orang boleh menginjakkan kaki atau berada di atas batu-batu ceper yang berukuran sedang di tengah kampung ini. Para tamu pun tidak boleh sembarangan mengambil gambar di lokasi tersebut.
Setiap tamu wajib memberi upeti (uang) kepada rato. Uang diletakkan di dalam tempat khusus sirih pinang. Jumlah uang tergantung tamu. Setelah itu, tamu boleh berbicara dengan rato, didampingi istri rato dan sesepuh adat kampung.
Kepala Kampung juga ketua adat disebut Rato Nale (Nyale). Rato artinya raja (penguasa), nale (nyale) artinya cacing (ikan) laut. Rato Nale dari Kampung Bukabhani, Kecamatan Kodi, Sumba, bernama Nggeru Ndongu (78).
Rumah sakral
Ditemui di kampung adat Bukabhani, Senin (28/2/2011), Ndongu mengatakan, kampung adat adalah tempat tinggal para leluhur. Kehadiran mereka ditandai dengan batu ceper asli (alamiah) menyerupai meja, dengan penopang tiga tiang batu atau gundukan batu lain.
”Di dalam tanah, persis di bawah meja batu ini, terdapat tulang belulang berusia ratusan tahun. Tidak hanya itu, hampir seluruh bagian bawah tanah di kampung yang berukuran 100 meter x 200 meter ini terdapat tulang manusia. Tempat ini sangat keramat,” kata Ndongu.
Semua jenis tumbuhan dalam kampung diyakini memiliki kemampuan menyembuhkan. Jika ada warga kampung sakit, terluka saat upacara pasola di lapangan, digosok dengan serat batang tumbuhan atau daun itu.
Rumah rato disebut juga rumah nale. Rumah itu ibarat ”rumah sakit” warga kampung. Jika ada warga kampung yang sakit berat, ibu sulit melahirkan, warga kampung ingin bepergian jauh, pembahasan upacara pernikahan, dan perang antarkampung harus dilakukan di rumah rato itu.
Bibit padi, jagung, kacang, atau tanaman lain disimpan di bagian loteng, tempat tinggal para leluhur atau merapu. Bibit ini mendapat berkat dari leluhur agar menghasilkan buah yang berlimpah untuk kesejahteraan warga.
Kubur batu yang mengelilingi kampung adat sebagai lambang perlindungan leluhur. Sampai 1950-an selalu terjadi perang antarsuku (kampung). Perang itu melibatkan fisik, juga menyertakan kekuatan gaib antarleluhur kampung. Di sini, hubungan harmonis dan kedekatan dengan leluhur sangat menentukan.
Pelaksanaan pasola (perang tanding dua kelompok suku) selalu mendapat petunjuk leluhur. Itu diawali dengan munculnya nale. Kehadiran nale dipadukan dengan mimpi sang rato dan posisi bulan, tepat tegak di atas rumah adat rato itu.
Setiap bahan bangunan dari kampung adat diambil dari hutan. Tidak boleh menggunakan paku, seng, besi, atau semen. Tiap bahan bangunan yang diambil mendapat izin dari leluhur agar rumah itu tak mendatangkan bencana bagi penghuninya. Meski memiliki ketinggian sampai 30 meter, rumah-rumah itu tidak ambruk diterjang angin kencang.
Rumah rato memiliki tiga tiang utama yang disebut tiang payanu, simbol norma dan hukum (keadilan), ”mataku” simbol keadilan, matangu uhu wei manu, simbol kesejahteraan di bidang pertanian dan peternakan. Kepemimpinan rato harus mencerminkan norma hukum, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perlindungan, dan kesejahteraan warga.
Menara rumah disebut kawuku uma atau hindi marapu, tempat tinggal para arwah leluhur, anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Di puncak ini disimpan arca-arca leluhur, harta benda, dan benda purbakala yang memiliki nilai mitis magis.
Bukabhani merupakan kampung adat tertua di Sumba Barat Daya (SBD). Rato Nggeru Ndongu sebagai pemimpin semua rato dari sejumlah kampung adat. Ia memiliki kemampuan khusus, seperti meramal suatu peristiwa yang bakal terjadi, atau membaca tanda-tanda alam.
Berangsur sirna
Sampai 1970-an, kampung adat Bukabhani diyakini sebagai kampung terkeramat, dipercaya memiliki kekuatan supernatural. Bayangan para tamu dari luar tidak boleh menyentuh kubur batu yang berserakan di kampung adat itu. Sang rato harus membacakan doa (mantra) sebelum tamu-tamu masuk kampung. Jika tidak, sang tamu akan mendapat celaka setelah pulang.
”Perkembangan modern perlahan-lahan menggeser nilai-nilai mitis magis dari kampung ini. Sekarang, anak muda sulit diatur, terutama mereka yang sudah pergi ke kota besar atau menyebut diri sebagai pelajar atau mahasiswa. Mereka tidak peduli terhadap segala kepercayaan yang dianut orangtua di kampung,” kata Ndongu.
Kepala Urusan Pemerintahan Desa Atedalo, Kecamatan Kodi, SBD, Robert Ranggamone, mengatakan, dalam urusan adat, pemerintah desa selalu bergantung pada rato. Di Desa Atedalo terdapat dua kampung adat, yakni Bukabhani dan Tossi. Bukabhani merupakan kampung adat tertua di seluruh SBD, bahkan Sumba.
”Penyelenggaraan pasola baik di Sumba Barat maupun SBD selalu mendengar masukan dari Rato Bukabhani,” katanya.
Di Sumba Timur, tradisi pasola sudah lenyap puluhan tahun silam setelah agama Kristen masuk. Di Sumba Barat Daya dan Sumba Barat, budaya pasola masih hidup karena agama Katolik memberi kesempatan bagi budaya lokal untuk tumbuh dan berkembang.
Moses Wakar (23), warga kampung Bukabhani, menuturkan, kekuatan gaib yang diperlihatkan para leluhur makin sirna tahun demi tahun. Itu dikarenakan perkembangan zaman dan sikap generasi muda yang kurang perhatian terhadap adat.
”Upacara pasola, pemerintah sudah mengambil alih dengan alasan demi pariwisata. Sejumlah nilai budaya dan tradisi lokal diabaikan, seperti penentuan hari dan tanggal pelaksanaan pasola. Di Wanokaka, misalnya, pasola biasanya diselenggarakan bulan Maret, tetapi kini malah sudah diselenggarakan pada bulan Februari,” kata Wakar.
Read More >> "Jantung" Kehidupan Orang Sumba

Sabtu, 28 Januari 2012

Penjaga Warisan Budaya Sumba

By: KORNELIS KEWA AMA

Salah satu Tarian Adat Sumba
Sanggar Seni Oriangu pimpinan Hendrik Pali Hamapaty tak asing bagi warga Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Di sanggar itu, para pejabat, mahasiswa, dan pelajar dari Sumba ataupun luar Sumba, termasuk turis asing, dapat melihat dan mempelajari beberapa seni tradisi lokal Sumba yang masih tersisa.
Sumba terkenal dengan budaya dan tradisi lokalnya. Kepercayaan agama asli Marapu memperkaya khazanah budaya dan tradisi itu. Namun, seiring perkembangan zaman dan masuknya agama baru, perlahan-lahan budaya dan tradisi lokal mulai ditinggalkan masyarakatnya. Hal yang konkret adalah punahnya sejumlah tarian daerah, musik, cerita rakyat, ataupun Marapu sebagai kepercayaan asli Sumba.
Literatur tari tradisional Sumba menyebutkan, ada lebih dari 100 tarian lokal yang menggambarkan kepercayaan kepada Tuhan agama asli Marapu, kehidupan warga, keadilan, kejujuran, pesta panen, dan pesta perkawinan. Namun, sebagian besar tarian itu sudah terlupakan, hanya 22 tarian yang masih bisa ditarikan.
Dari 22 tarian tradisional itu pun 18 di antaranya nyaris hilang. Tarian itu, antara lain, Kabokang (tarian untuk menghormati raja agar selalu jujur dan adil memimpin), Mapandamu (tarian mewujudkan rasa syukur atas kelahiran anak), Kandingan (tarian syukur pada pesta panen), Patanjangung (tarian syukur atas panen perdana), dan Panapang banu (tarian melamar gadis).
Ada juga tarian Ningguharana yang dibawakan pria dan perempuan untuk menyambut pahlawan yang pulang dari peperangan. Kini, tarian itu dibawakan saat menjemput para peserta pasola yang baru pulang dari pertarungan (permainan melempar tongkat kayu sambil menunggang kuda).
Tim Ekspedisi Jejak Peradaban Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ke Pulau Sumba bertemu dengan Hendrik Pali Hamapaty yang prihatin dengan punahnya sejumlah budaya dan tradisi lokal Sumba. Hendrik menilai, budaya dan tradisi Sumba memiliki pesan kuat bagi kehidupan persaudaraan, kebersamaan, kehidupan sosial, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Itu yang memotivasi dia mendirikan Sanggar Oriangu.

Terinspirasi Yogyakarta

Hendrik, pemilik sanggar dan pelestari seni budaya tradisional Sumba ini, terinspirasi kegiatan para seniman di Yogyakarta. Di kota itu, seni bisa menghidupi senimannya. Sementara di daerah seperti Sumba, seniman harus berjuang dan bersusah payah menghidupi keluarganya. Ini belum termasuk mendapatkan dana untuk mempertahankan dan melestarikan tradisi yang sudah dan terancam punah.
”Sepulang dari Yogya tahun 1980, setelah menekuni seni tari di sanggar milik Bagong Sutrisnadi, saya mulai menyosialisasikan tarian-tarian itu di sekolah-sekolah. Kini, hampir semua sekolah dasar dan menengah di Sumba belajar tarian di sanggar ini. Para guru pun belajar tarian untuk melatih para siswa. Bahkan, tarian-tarian yang hampir punah bisa masuk dalam muatan lokal sekolah dasar dan menengah,” katanya.
Sanggar Oriangu pun penuh sesak menjelang 17 Agustus, saat para siswa dan guru menyiapkan diri untuk lomba tarian tradisional. Setiap kelompok harus diajari tarian berbeda dengan modifikasi berbeda pula. Ada tarian berisikan kepahlawanan, pendidikan, keadilan, pengorbanan guru, kehidupan petani di sawah, kejujuran, dan kehidupan sosial.
Tarian yang terancam punah pun kembali populer. Pemerintah kabupaten setempat juga kerap meminta Hendrik menyajikan sejumlah tarian khas Sumba bersama peserta didiknya untuk menyambut kedatangan tamu atau pelantikan pejabat.
Hendrik mengaku sekali pentas dibayar Rp 500.000-Rp 2,5 juta. Jika mereka tampil di hadapan turis asing, bayarannya bisa sampai Rp 5 juta sekali tampil. Uang itu langsung dia bagikan kepada peserta didik yang umumnya anak putus sekolah dan lulusan sekolah menengah yang belum mendapat pekerjaan.
Kalau tak ada permintaan pentas, latihan rutin tetap dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu. Tujuannya agar anak-anak tak berkeliaran di jalanan pada malam Minggu atau hari libur.
Sebanyak 50 anak didik angkatan pertama (1982-1985) sudah menyebar ke sejumlah kecamatan dan desa untuk melatih sekaligus mempelajari dan mengkreasi tarian yang ada. Dari penyebaran anak didik Hendrik ke desa-desa itu, didapatkan lima tarian baru yang belum ditampilkan karena masih perlu dipelajari asal usul dan arti setiap gerakannya.

Sanggar serba guna

Hampir 10 angkatan telah belajar di sanggar ini. Oriangu sudah menjadi pusat pembelajaran siswa sekolah dasar dan menengah. Sejumlah sekolah di pedalaman Sumba pun datang ke Sanggar Oriangu untuk belajar tari tradisional.
”Sanggar ini saya bangun atas dukungan dana dari para biarawati Katolik di Denpasar senilai Rp 40 juta. Tujuan awalnya untuk pelestarian tari tradisional dan pelatihan tenun ikat Sumba. Tetapi kemudian berkembang menjadi sanggar serba guna,” ceritanya.
Dinas Tenaga Kerja Sumba Timur pun sering mengirimkan orang untuk mengikuti pelatihan tenun ikat di sanggar ini. Mereka umumnya lulusan sekolah menengah dan sekolah dasar. Oleh karena keterbatasan ruangan, fasilitas pendukung, dan tenaga, Sanggar Oriangu fokus pada kegiatan tarian, musik lokal, dan sastra lisan yang dipercaya bersifat mistis-magis.
Alat musik yang ditekuni Hendrik, antara lain, gong dan tambur yang masih umum digunakan. Keterbatasan tenaga dan dana membuat ia kesulitan mendalami sejumlah alat musik yang telah punah.
”Saya sedang mencari alat musik jungga yang masih tersimpan di desa-desa. Saya butuh orang khusus untuk memainkan alat musik ini. Kalau ada pemainnya, kami akan mengumpulkan generasi muda di sanggar untuk berlatih dan mementaskan jungga di hadapan para turis, pejabat daerah, dan masyarakat luas,” katanya.
Menurut Hendrik, awal 1990-an terdapat 57 sanggar. Namun, keterbatasan dana dan tidak adanya dukungan dari masyarakat mengakibatkan sanggar-sanggar itu tutup.
”Saya bertahan dengan kemampuan amat terbatas. Saya ingin Sumba tetap memiliki semangat kebudayaan asli. Jangan sampai budaya lokal Sumba punah dan yang ada hanya budaya impor. Hal ini mulai terasa sekarang,” kata Hendrik.


sumber: kompas
Read More >> Penjaga Warisan Budaya Sumba

Kuda Sumba

Kuda Sumba
Pada zaman dahulu, kuda sering dipakai sebagai kendaraan perang oleh masyarakat Sumba. Pasola merupakan salah satu bukti kepiawaian pria Sumba menunggang kuda sambil berperang. Pasola juga merupakan ritual masyarakat penganut kepercayaan Merapu untuk meminta berkah para dewa agar panen berhasil baik.

Di Sumba Barat, ritual Pasola diadakan setiap tahun, antara bulan Februari dan Maret. Pasola merupakan atraksi adat dalam bentuk perang-perangan oleh dua kelompok berkuda beranggotakan sekitar 100 orang. Mereka saling berhadapan bersenjatakan tombak berujung tumpul.

Dalam satu dasawarsa terakhir tombak diganti dengan kayu yang dibuat seperti tombak. Terkadang ada korban jiwa dalam pasola. Namun tidak bisa diproses secara hukum. Masyarakat setempat percaya bahwa korban yang meninggal dunia dalam ritual itu sebagai hukuman para dewa kepada yang bersangkutan.

Kuda-kuda di Sumba hidup bebas di padang pengembalaan. Tak ada pagar yang membatasi ruang gerak mereka. Kecuali kuda pacu, yang dipelihara khusus. Harga kuda pacu bisa mencapai ratusan juta rupiah.  Sumba, terutama Sumba Timur kemudian dikenal sebagai daerah penangkaran kuda pada abad ke-19 ketika Belanda mulai memperbaiki kualitas kuda sumba dengan cara mengawinkan kuda sumba dengan kuda arab. Kawin silang inilah yang menghasilkan kuda sumba yang dikembangkan masyarakat Sumba sampai saat ini.

Kuda sandel atau kuda sumba sampai sekarang masih merupakan jenis kuda dengan populasi terbesar di Pulau Sumba dan dikirim  ke luar  Pulau Sumba antara lain ke Sulawesi, Jawa,  Madura, Bali, Jakarta bahkan ke Kalimantan untuk dipergunakan sebagai kuda tarik, kuda tunggang serta kuda pacu.  Kuda Sandelwood terkenal karena kekuatan dan daya tahan yang tinggi. Kondisi alam yang tidak ramah itu telah membentuk kuda sumba sebagai salah satu jenis kuda dengan stamina yang kuat.

Daya tahan tubuh kuda sandel telah teruji secara nasional dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kelas penunggang terlama dan terjauh bersama penunggang asal Lembang, Jawa Barat, Billy Mamola pada Agustus 2008 lalu di Lembang, Jawa Barat. Kuda  Sumba mampu menempuh perjalanan  500 kilometer dari Lembang, Jawa Barat sampai ke Pangandaran, daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sebagai pencinta kuda, Billy Mamola mengaku menjatuhkan pilihan pada kuda sumba karena kuda sumba mempunyai kuku yang sangat kuat.   Bily mengaku kagum dengan kuda sumba karena postur dan kukunya kuat.  Kekuatan kuda sumba yang bertumpu pada kuku diperkirakan disebabkan kondisi alam Sumba yang tandus dan berbukit-bukit serta cara pemeliharaan yang dilakukan secara ekstensif atau  dilepas bebas merumput di padang. Jenis makanan kuda Sumba dari rerumputan liar, kata Billy, diperkirakan ikut mempengaruhi kekuatan dan daya tahan kuda sumba.

Tentu saja ke depan,  peningkatan kualitas kuda sumba tidak sepenuhnya diserahkan kepada alam. Perbaikan kualitas menjadi prioritas. Sayang, Pemerintah Daerah Sumba Timur secara khusus belum  memiliki pusat pembibitan kuda suma yang memadai.

Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora pernah mengungkapkan akan membangun pusat pembibitan kuda di daerah. Namun rencana itu tetap disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Saat ini pusat pembibitan kuda masih bergabung dengan sapi dan kerbau. Namun pusat-pusat pembibitan di masyarakat sebenarnya cukup banyak.

Salah satunya adalah pusat pembibitan milik Sukianto Untono. Bahkan kuda-kuda hasil penangkaran Sukianto sudah menembus pasar nasional dan pernah mencetak prestasi di tingkat nasional.

Meskipun telah mencetak prestasi secara nasional, perhatian dan dukungan pemerintah daerah untuk prestasi olah raga berkuda masih rendah. Hal itu pernah dikeluhkan Sukianto ketika kudanya mencetak prestasi di tingkat nasional beberapa waktu lalu. Selain untuk kejuaraan di tingkat nasional, orang sumba sendiri mempunyai tradisi pacuan kuda tradisional. Pacuan kuda tradisional ini dilakukan oleh para joki yang masih berusia belia.

Dalam pacuan kuda tradisional ini para joki tanpa dilengkapi pengaman. Demikian juga dengan kuda yang digunakan dalam pacuan tradisional tersebut. Orang jatuh dari kuda dalam acara tersebut sudah biasa. Namun tidak pernah ada yang meninggal dunia karena orang sumba memiliki tata cara penyembuhan secara tradisional. Para joki yang jatuh dari kuda hanya disirami air yang didoakan para imam Merapu dan sudah bisa bangkit dan kembali mengikuti perlombaan.

Bagi orang luar Sumba ini mungkin menakutkan dan mengerikan. Namun bagi orang sumba, di sinilah tempatnya menguji nyali. Tidak hanya penunggangnya tetapi juga kecepatan dan daya tahan kuda. Orang rela taruhan puluhan juta rupiah untuk kuda jagoannya. Karena itu, tidak heran jika pagelaran pacuan kuda juga menjadi surga bagi para penjudi.

Tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak sekolah berseragam putih  merah, putih biru maupun putih abu. Itu sebabnya terkadang perlombaan pacuan kuda juga menjadi biang terjadinya konflik yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

Lepas dari itu semua, peningkatan kualitas kuda sumba yang sudah menjadi ikon tanah Sumba harus menjadi perhatian semua pihak, terutama pemerintah daerah. (adiana ahmad)


sumber: kompas.com
Read More >> Kuda Sumba