Kamis, 19 Januari 2012

Warga Sumba Tak Bebas Lagi Bawa Parang Sembarangan

Stiker larangan membawa parang
SUMBA BARAT - Senjata tajam (sajam), khususnya parang, sangat identik dengan budaya warga di Pulau Sumba, khususnya di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak hanya dalam upacara adat parang dilekatkan di pinggang, dalam kehidupan sehari-hari pun barang berbahaya itu tidak lepas dari pinggang warga. Kebiasaan disadari atau tidak menimbulkan potensi konflik.

Warga sering kali dengan mudahnya menghunuskan parang dan menebas lawan hanya karena emosi sesaat.

Kapolres Sumba Barat AKBP Lily Aprianto mengatakan, akibat budaya membawa parang sudah korban berjatuhan.

“Sudah banyak jatuh korban, pada Desember 2011 saja sudah empat orang tewas. Semuanya karena tebasan parang. Kasus ini bermotifkan dendam, sakit hati, dan emosi sesaat,” ujar Aprianto, Selasa (17/1/2012).

Untuk itu, pihaknya secara terus menerus mengimbau warga tidak membawa sajam di tempat-tempat tertentu. “Kami juga akan menggelar razia dan sosialisasi pada warga dengan imbauan keliling dan penempelan stiker di tempat umum,” jelas Aprianto.

Polisi sudah melakukan sosialisasi dengan menempelkan stiker di rumah sakit, pasar, pertokoan, terminal, dan tempat umum lainnya. Stiker yang ditempelkan selain berisi larangan, juga sanksi hukum bagi pelanggarnya yakni 10 tahun penjara, sesuai Undang-Undang Darurat Tahun 1951.

Langkah preventif ini mendapat respons positif dari warga. “Terus terang saya takut dan cemas. Hampir setiap hari saya lihat orang seliweran dengan parang di pinggang, bahkan ditenteng. Saya harap aparat bertindak tegas. Apalagi beberpa waktu lalu pernah ada yang saling tebas di depan kios saya,” jelas Rahma, seorang warga pendatang yang sehari-hari berjualan kelontong di Pasar Inpres Kota Waikabubak.

“Saya dukung pemerintah dan polisi. Asalkan jangan melarang kami membawa parang kalau pergi ke sawah atau kebun juga kalau ada urusan adat. Kalau di tempat umum boleh disita,” timpal Bada, warga asli Pulau Sumba yang saat temui masih memgegang parang.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/ton)
Read More >> Warga Sumba Tak Bebas Lagi Bawa Parang Sembarangan

Senin, 16 Januari 2012

Tabrakan Motor Vs Kuda Pacu, 1 Orang Tewas

SUMBA TIMUR - Tidak seperti di kota besar, di mana kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi di antara sesama pengendara motor, di Kota Waingapu,  Kabupaten Sumba Timur, NTT, pagi tadi, terjadi Lakalantas yang berbeda.

Yaitu antara pengendara sepeda motor dengan kuda pacu. Dalam insiden ini, seorang ibu tewas dan kuda pacunya patah tulang kaki serta menderita luka-luka. Adalah Senita Desenori (46) selepas mengantar anaknya ke sekolah dan berbelanja, harus meregang nyawa, setelah sepeda motor yang dikendarainya menabrak seekor kuda pacu yang tiba-tiba memotong ruas Jalan WZ Johanes, yang dilaluinya.

Meski sempat diberikan pertolongan pertama dan dibawa ke rumah sakit terdekat, nyawa ibu paruh baya ini akhirnya tak tertolong. Kini jenazahnya disemayamkan di kediamannya. Beberapa saat setelah kejadian, aparat lantas Polres Sumba Timur, langsung menuju lokasi dan melakukan olah TKP.

Sementara barang bukti kuda pacu yang terlibat dalam Lakalantas ini dititipkan dengan pengawasan aparat di rumah pemiliknya. Sedangkan barang bukti sepeda motor milik korban dibawa ke Mapolres guna proses hukum lebih lanjut.

“Jadi kudanya tidak diikat sempurna oleh pemiliknya. Saat sang ibu melintas pagi tadi selepas mengantar anaknya ke sekolah, tiba-tiba muncul kuda memotong jalan korban. Kaget dan tidak lagi mampu mengedalikan motornya hingga menabarak kuda. Korban jatih di badan jalan. Sempat diberikan pertolongan pertama dan dibawa ke rumah sakit namun nyawa korban tak tertolong. Kemungkinan karena darah dari lukanya dibagian kepala cukup banyak,” jelas Iptu. Anggara Rustamyono, Kasat Lantas Polres Sumba Timur, saat ditemui usai melakakan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sementara itu, Feddy Tawa, pemilik kuda yang ditemui disekitar TKP, mengaku bahwa kuda pacu miliknya baru selesai dimandikan oleh pengerjanya. Lalu diikat sementara di pagar tetangga. “Kuda itu sebenar terikat setelah dimandikan oleh perawat kuda yang kerja di saya. Di ikat cukup kuat  di bale- bale. Namun kemudian oleh temannya dipindahkan dan dikat di bunga. Mungkin  ikatannya tidak kuat jadi lepas dan jadinya begini,” jelasnya.

Lakalantas yang  melibatkan pengendara kendaraan bermotor dengan ternak acapkali terjadi di Kabupaten Sumba Timur, akibat dari pola beternak  para pemilik ternak yang seiring melepas liar ternak, atau diikat serampangan, hingga sering lepas kontrol.

Kasus serupa sejatinya tidak sering terjadi, jika Peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang penertiban ternak, dan telah disahkan DPRD setempat, benar-benar di tegakkan secara optimal oleh pemerintah setempat.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/ful)
Read More >> Tabrakan Motor Vs Kuda Pacu, 1 Orang Tewas

Minggu, 15 Januari 2012

Lulus, Murid SD di Sumba Timur Tak Terima Ijazah

SUMBA- Meski telah dinyatakan lulus pada tahun lalu, hingga kini hampir 300 murid pada dua puluhan Sekolah dasar (SD) di Sumba Timur, NTT, belum juga menerima ijazahnya. 

Kondisi itu dibenarkan oleh Obed Hilungara, Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dinas PPO) Kabupaten Sumba Timur.

“Itu benar adanya. Ada beberapa sekolah yang Kepala Sekolahnya telah pensiun sejak Mei tahun 2011 lalu. Dan itu telah kami usulkan penggantinya sejak bulan Juni. Namun hingga sekarang masih belum juga ditetapkan penggantinya secara defenitif. Untuk tidak mengganggu proses belajar mengajar kami sementara tetapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah,” urai Obed.

Lebih jauh dijelaskan Obed, situasi ini sejatinya tidak sampai terjadi, jika mutasi para Kepsek lebih cepat diproses. Menurutnya, kelengkapan para guru yang diusulkan untuk menjadi Kepsek defenitif telah dimasukan sejak Juli tahun lalu ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumba Timur.

“ Diharapkan bulan Agustus lalu atau paska lebaran, sekolah-sekolah itu telah memiliki Kepsek defenitif hingga bisa menandatangani Ijazah para siswa. Namun kenyataannya hingga kini belum juga terealisir.  Imbasnya tentu para murid yang telah lulus yang menjadi korbannya. Mereka hingga kini belum jua menerima ijazah.

Ketika melanjutkan pendidikannya ratusan murid itu hanya dibekali dengan surat keterangan lulus saja,” pungkas Obed.

Ditemui terpisah, Kepala BKD Sumba Timur, Lu Pelindima, tidak menampik hal itu. “ Benar adanya itu. Namun dalam waktu dekat, kami akan segera memprosesnya,” tukasnya singkat.  

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/crl) - okezone.com
Read More >> Lulus, Murid SD di Sumba Timur Tak Terima Ijazah

Sabtu, 14 Januari 2012

Kapolda NTT Minta Polisi Brutal Ditindak Tegas

SUMBA TIMUR - Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen (Pol) Ricky Sitohang meminta Kapolres Sumba Timur, AKBP I Made Dharmadi Giri menuntaskan kasus penganiayaan terhadap warga yang dilakukan polisi.

Ricky meminta Kapolres segera menggelar sidang disiplin dan memberi sanksi tegas kepada polisi yang menganiaya Hafid Harun (32), penjual ikan di Pasar Inpres Waingapu.

Hal itu disampaikan Ricky Sitohang saat melakukan kunjungan kerja ke Sumba Timur, Rabu (11/1/2012). Dalam kesempatan tersebut, Kapolda juga meminta maaf kepada korban pemukulan yang diundang khusus untuk hadir dalam pertemuan.

”Saya mohon maaf kepada korban dan keluarganya atas perilaku tidak terpuji anggota saya. Saya juga tegaskan agar jangan sampai kejadian serupa terjadi. Dan kepada oknum yang bersangkutan telah saya minta Kapolres untuk dalam waktu seminggu menuntaskan kasus ini dengan melakukan pemeriksaan, sidang disiplin hingga pemberian sanksi dan bila perlu ditahan selama 21 hari,” tegasnya.

Sebelumnya, Kapolres Sumba Timur bersama jajarannya telah berkunjung ke rumah Hafid Harun (32),  korban perilaku brutal oknum satuan lalu lintas berinisial M. Kapolres meminta maaf dan berdialog dengan masyarakat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Perpolisian Masyarakat (FKPM) kelurahan Kemala Putih, kecamatan Kota Waingapu.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/fer) - okezone.com
Read More >> Kapolda NTT Minta Polisi Brutal Ditindak Tegas

Kamis, 12 Januari 2012

Kapolres Sumba Timur Akui Anak Buahnya Aniaya Hafid

Hafid Harun, korban penganiayaan polisi
WAINGAPU - Kapolres Sumba Timur, AKBP Made Dharmadi secara legowo mengakui perilaku anak buahnya yang menganiaya Hafid Harun (32), penjual ikan di Pasar Inpres Waingapu.

Dia menjelaskan, penganiayaan yang dilakukan oknum polisi tersebut tidak patut ditiru. Dia memastikan hari ini juga akan membawa para pelaku dan jajarannya untuk datang ke rumah korban.

Langkah ini ditempuh sebagai bentuk simpati juga kembali menjalin silaturahim jajarannya dengan korban, khususnya, dan warga, pada umumnya.

Hafid Harun, korban penganiayaan, yang ditemui terpisah menyambut baik niat damai yang dikemukakan Kapolres Sumba Timur. Karena terharu, Hafid meneteskan air mata.

Air mata yang mengalir diakuinya sebagai bentuk kelegaan hatinya karena polisi nomor satu di Sumba Timur itu menuhi harapannya.

“Jika Pak Kapolres mau datang langsung bersama anggotanya yang memukul saya untuk memohon maaf secara langsung, saya juga manusia yang punya hati, pasti akan menerimanya. Apalagi jika mereka turut meminta maaf pada keluarga, saya yakni kakak dan mama saya terima permohonan maaf itu,” tuturnya terpisah.

“Saya juga berterima kasih juga buat kawan dan saudara wartawan yang turut mengangkat persoalan ini,” jelasnya dengan terbata-bata seraya meneteskan air mata haru.

Aksi pemukulan yang dilakukan polisi saat malam tahun baru lalu, menarik simpati rekan korban. Perkumpulan pedagang ikan di Pasar Inpres Waingapu meminta agar Kapolres Sumba Timur menindak anggota yang bersalah, dan mereka berharap kasus ini tidak kembali terulang lagi.

“Kami berharapa kasus ini tidak lagi terulang. Tidak hanya pada kami dan rekan kami sesama penjual ikan, namun juga kepada masayarat kecil lainnya. Jika masih terjadi, kiranya pelaku dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Chenk, perwakilan pedagang, dan diamini sejumlah rekan penjual ikan lainnya.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/kem) - okezone.com
Read More >> Kapolres Sumba Timur Akui Anak Buahnya Aniaya Hafid

Senin, 09 Januari 2012

Empat Anak Tertimbun Longsor, Satu Tewas

Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
SUMBA TIMUR - Hujan dan angin kencang yang melanda Kabupaten Sumba Timur, NTT, sepekan terakhir berujung jatuhnya korban jiwa. Seorang anak usia delapan tahun tewas tertimbun tanah longsor, saat sedang bermain bersama tiga temannya di pinggiran tebing bekas galian di belakang sebuah rumah kosong.

Korban bernama Saputra Umbu Borang, bocah kelas tiga SD Inpres Papindung. Dia merupakan warga RT 14 RW 04 Kelurahan Mauliru, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur.

Kejadian berawal saat anak-anak ini sedang bermain selepas hujan berhenti. Mereka bermain di sekitar tebing bekas galian, tanpa memperkirakan terjadinya bencana. Saputra bersama sejumlah temamanya tertimbun, nyawa temannya berhasil tertolong, namun Saputra, saat ditemukan sudah tak bernyawa.

Ama Josua, saksi mata yang ditemui di sekitar lokasi menjelaskan bahwa kejadian berlangsung begitu cepat. Bahkan anaknya sempat juga tertimbun. "Ada teriakan dari ibu-ibu yang berkerumun disekitar TKP. Saat saya tiba, saya bersama warga lainnya hanya menggunakan tangan kosong angkat anak-anak. Namun Saputra saat ditemukan penuh darah di hidung, mulut, dan telinga. Kami bawa ke rumahnya untuk kemudian dimandikan dan disemyamkan," jelasnya.

Adapun jenasah korban hingga kini masih disemayamkan di rumah duka, dengan diringi isak tangis orangtuanya, Martha Rundi dan Yonathan Horo.

Sementara itu, Suryadi (7), teman bermain korban yang mengalami patah tulang belakang, hingga kini masih terus dirawat intensif di Rumah Sakit Kristen Lindimara. Adapun temannya yang lain telah diperkenankan pulang oleh pihak rumah sakit.

Tak hanya longsor, warga Sumba Timur juga harus terus waspada angin puting beliung dan banjir yang sewaktu-waktu bisa menyerang permukiman. Terdata dalam sepekan ini, delapan rumah rusak berat dilanda puting beliung. Sementara sebuah jembatan ambruk oleh banjir bandang. Akibatnya lebih dari 20 ribu jiwa warga Kecamatan Ngadu Ngala, Kabupaten Sumba Timur, hingga kini masih terisolir.

(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/ful)
Read More >> Empat Anak Tertimbun Longsor, Satu Tewas

Sabtu, 07 Januari 2012

Marapu

Marapu adalah sebuah agama lokal atau pun kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Agama ini merupakan kepercayaan yang memuja nenek moyang dan leluhur. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini.
Pemeluk agama ini percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu.
Upacara keagamaan marapu ( seperti upacara kematian dsb) selalu diikuti dengan pemotongan hewan seperti kerbau dan kuda swebagai korban sembelihan, dan hal itu sudah menjadi tradisi turun - temurun yang terus di jaga di Sumba.

AGAMA MARAPU
Agama Marapu adalah "agama asli" yang masih hidup dan dianut oleh orang Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Adapun yang dimaksud dengan agama Marapu ialah sistem keyakinan yang berdasarkan kepada pemujaan arwah-arwah leluhur (ancestor worship). Dalam bahasa Sumba arwah-arwah leluhur disebut Marapu , berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Karena itu agama yang mereka anut disebut Marapu pula. Marapu ini banyak sekali jumlahnya dan ada susunannya secara hirarki yang dibedakan menjadi dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu Ratu. Marapu ialah arwah leluhur yang didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas, clan), sedangkan Marapu Ratu ialah marapu yang dianggap turun dari langit dan merupakan leluhur dari para marapu lainnya, jadi merupakan marapu yang mempunyai kedudukan yang tertinggi. Kehadiran para marapu di dunia nyata diwakili dan dilambangkan dengan lambang-lambang suci yang berupa perhiasan mas atau perak (ada pula berupa patung atau guci) yang disebut Tanggu Marapu. Lambang-lambang suci itu disimpan di Pangiangu Marapu, yaitu di bagian atas dalam menara uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) suatu kabihu. Walaupun mempunyai banyak Marapu yang sering disebut namanya, dipuja dan dimohon pertolongan, tetapi hal itu sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Yang Maha Pencipta. Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para leluhur itu sendiri, tetapi kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Pencipta dan Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan adanya Yang Maha Pencipta biasanya dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat kiasan, itu pun hanya dalam upacara-upacara tertentu atau peristiwa-peristiwa penting saja. Dalam keyakinan Marapu, Yang Maha Pencipta tidak campur tangan dalam urusan duniawi dan dianggap tidak mungkin diketahui hakekatnya sehingga untuk menyebut nama-Nya pun dipantangkan. Sedangkan para Marapu itu sendiri dianggap sebagai media atau perantara untuk menghubungkan manusia dengan Penciptanya. Kedudukan dan peran para Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi papakalangu – ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya. Selain memuja arwah leluhur, bentuk agama yang disebut Marapu ini percaya juga akan bermacam roh yang ada di alam sekitar tempat tinggal manusia sehingga perlu pula dipuja, percaya bahwa benda-benda dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya berjiwa dan berperasaan seperti manusia, dan percaya tentang adanya kekuatan gaib pada segala hal atau benda yang luar biasa. Untuk mengadakan hubungan dengan para arwah leluhur dan arwah-arwah lainnya, orang Sumba melakukan berbagai upacara keagamaan yang dipimpin oleh ratu (pendeta) dan didasarkan pada suatu kalender adat yang disebut Tanda Wulangu. Kalender adat itu tidak boleh diubah atau ditiadakan karena telah ditetapkan berdasarkan nuku-hara (hukum dan tata cara) dari para leluhur. Bila diubah dianggap akan menimbulkan kemarahan para leluhur dan akan berakibat buruk pada kehidupan manusia. Dalam kepercayaan agama Marapu, roh ditempatkan sebagai komponen yang paling utama, karena roh inilah yang harus kembali kepada Mawulu Tau-Majii Tau. Roh dari orang yang sudah mati akan menjadi penghuni Parai Marapu (negeri arwah, surga) dan dimuliakan sebagai Marapu bila semasa hidupnya di dunia memenuhi segala nuku-hara yang telah ditetapkan oleh para leluhur. Menurut kepercayaan tersebut ada dua macam roh, yaitu hamangu (jiwa, semangat) dan ndiawa atau ndewa (roh suci, dewa). Hamangu ialah roh manusia selama hidupnya yang menjadi inti dan sumber kekuatan dirinya. Berkat hamangu itulah manusia dapat berpikir, berperasaan dan bertindak. Hamangu akan bertambah kuat dalam pertumbuhan hidup, dan menjadi lemah ketika manusia sakit dan tua. Hamangu yang telah meninggalkan tubuh manusia akan menjadi makhluk halus dengan kepribadian tersendiri dan disebut ndiawa. Ndiawa ini ada dalam semua makhluk hidup, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan, yang kelak menjadi penghuni parai marapu pula. Hampir seluruh segi-segi kehidupan masyarakat Sumba diliputi oleh rasa keagamaan. Bisa dikatakan agama Marapu sebagai inti dari kebudayaan mereka, sebagai sumber nilai-nilai dan pandangan hidup serta mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Karena itu tidak terlalu mudah mereka melepaskan keagamaannya untuk menjadi penganut agama lain. Walaupun dalam budaya Sumba tidak dikenal bahasa tulisan, orang Sumba mempunyai kesusasteraan suci yang hidup dalam ingatan para ahli atau pemuka-pemuka agama mereka. Kesusasteraan suci ini disebut Lii Ndai atau Lii Marapu yang diucapkan atau diceriterakan pada upacara-upacara keagamaan diiringi nyanyian adat. Kesusasteraan suci dianggap bertuah dan dapat mendatangkan kemakmuran pada warga komunitas dan kesuburan bagi tanaman serta binatang ternak. Upacara-upacara keagamaan dan lingkaran hidup yang mereka laksanakan, terutama upacara kematian, diselenggarakan secara relatif mewah sehingga memberi kesan pemborosan. Namun bagi orang Sumba, hal tersebut mereka lakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Yang Maha Esa, tanda hormat dan bakti pada para leluhur, serta menjalin rasa solidaritas kekerabatan di antara mereka. Pada setiap upacara keagamaan berbagai bentuk kesenian biasanya ditampilkan pula. Dapat dikatakan bahwa kesenian merupakan pengiring bagi religi mereka. Upacara-upacara keagamaan di Sumba selalu dianggap keramat, karena itu tempat-tempat upacara, saat-saat upacara, benda-benda yang merupakan alat-alat dalam upacara serta orang-orang yang menjalankan upacara dianggap keramat pula. Mereka menyembah Mawulu Tau — Majii Tau dengan perantaraan para marapu yang merupakan media antara manusia dengan Penciptanya. Setiap kabihu mempunyai marapu sendiri yang dipujanya agar segala doa dan kehendaknya disampaikan kepada Maha Pencipta. Para marapu itu diupacarakan dan dipuja di dalam rumah-rumah yang didiami oleh warga suatu kabihu terutama di rumah yang disebut uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) atau uma bungguru (rumah persekutuan). Di dalam rumah itulah dilakukan upacara-upacara keagamaan yang menyangkut kepentingan seluruh warga kabihu, misalnya upacara kelahiran, perkawinan, kematian, menanam, memungut hasil dan sebagainya. Tempat upacara pemujaan kepada para marapu bukan hanya di dalam rumah saja, tetapi juga di luar rumah, yaitu di katode, tempat upacara pamujaan di luar rumah berupa tugu (semacam lingga-yoni) yang dibuat dari sebatang kayu kunjuru atau kayu kanawa yang pada sisi-sisinya diletakkan batu pipih. Di atas batu pipih inilah bermacam-macam sesaji, seperti pahapa (sirih pinang), kawadaku (keratan mas) dan uhu mangejingu (nasi kebuli) diletakkan untuk dipersembahkan kepada Umbu-Rambu (dewa-dewi) yang berada di tempat itu. Di dalam suatu paraingu biasanya terdapat pemujaan kepada satu marapu ratu (maha leluhur). Misalnya, maha leluhur di Umalulu ialah Umbu Endalu dan dipuja dalam suatu rumah kecil yang tidak dihuni manusia, karena itu rumah pemujaan tersebut bernama Uma Ndapataungu (rumah yang tak berorang) yang dalam luluku (bahasa puitis, berbait)disebut sebagai Uma Ndapataungu — Panongu Ndapakelangu (rumah yang tak berorang dan tangga yang tak berpijak). Menurut kepercayaan orang Umalulu, Umbu Endalu mendiami rumah tersebut secara gaib. Secara lahir rumah itu tampak kecil saja, tetapi secara gaib rumah itu sebenarnya merupakan rumah besar. Mereka menganggap Umbu Endalu senantiasa berada di dalam rumah tersebut, karena itu tangga untuk naik turun ke rumah selalu disandarkan. Rumah permujaan Uma Ndapataungu disebut juga Uma Ruu Kalamaku (rumah daun keIapa) karena atapnya dibuat dari daun kelapa; dan Uma Lilingu (rumah pemali), karena untuk datang dan membicarakan rumah tersebut harus menurut adat atau tata cara yang telah ditetapkan oleh para leluhur pula. Uma Ndapataungu berbentuk uma kamudungu (rumah tak bermenara) dan menghadap ke arah tundu luku (menurut aliran air sungai, hilir ) serta terletak di bagian kani padua (pertengahan, pusat) dari Paraingu Umalulu. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah pemujaan itu ialah kayu ndai linga atau ai nitu (cendana) yang digunakan untuk tiang-tiang (jumlah seluruh tiang dari rumah pemujaan ini ada enam belas buah tiang), atap dan dinding dari bahan ruu kalamaku (daun kelapa), tali pengikat dari bahan huaba (selubung mayang kelapa). Bahan-bahan tersebut harus diambil dari suatu tempat yang bernama Kaali — Waruwaka dan sekitarnya. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan di Uma Ndapataungu ialah upacara Pamangu Kawunga yang dilaksanakan empat tahun sekali, yaitu bertepatan dangan diperbaikinya tempat pemujaan tersebut; dan upacara Wunda lii hunggu — Lii maraku, yaitu upacara persembahan yang dilaksanakan setiap delapan tahun sekali. Menurut pandangan orang Sumba, manusia merupakan bagian dari alam semesta yang tak terpisahkan. Hidup manusia harus selalu disesuaikan dengan irama gerak alam semesta dan selalu mengusahakan agar ketertiban hubungan antara manusia dengan alam tidak berubah. Selain itu manusia harus pula mengusahakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang ada di setiap bagian alam semesta ini. Bila selalu memelihara hubungan baik atau kerja sama antara manusia dengan alam, maka keseimbangan dan ketertiban itu dapat dipertahankan. Hal tersebut berlaku pula antara manusia yang masih hidup dengan arwah-arwah dari manusia yang sudah mati. Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhurnya. Mereka beranggapan bahwa para arwah leluhur itu selalu mengawasi dan menghukum keturunannya yang telah berani melanggar segala nuku — hara sehingga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya terganggu. Untuk memulihkan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia terhadap alam sekitarnya dan mengadakan kontak dengan para arwah leluhurnya, maka manusia harus melaksanakan berbagai upacara. Saat-saat upacara dirasakan sebagai saat-saat yang dianggap suci, genting dan penuh dengan bahaya gaib. Oleh karena itu, saat-saat upacara harus diatur waktunya agar sejajar dengan irama gerak alam semesta. Pengaturan waktu untuk melakukan berbagai upacara itu didasarkan pada kalender adat, tanda wulangu. Dalam jangka waktu kehidupan tiap individu dalam masyarakat Sumba ada saat yang dianggap genting atau krisis, yaitu saat kelahiran, menginjak dewasa, perkawinan dan kematian. Pada saat-saat seperti itulah upacara keagamaan biasanya dilaksanakan. (P. Soeriadiredja).
Read More >> Marapu