Sabtu, 28 Januari 2012

Tanah Sumba Ku Akan Kembali

By: Kudel

Perjalanan ke Sumba Penuh Kenangan

Dulu, aku mungkin tidak bermimpi menginjak tanah Sumba. Tanah yang jauh dari tempat asalku Surabaya, tanah yang sebagian besar berupa sabana dan stepa dikelilingi gunung-gunung kapur cadas menjulang. Kisahku bermula dari sebuah penugasan negara, aku ditempatkan di Sumba Timur NTT sebagai Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) periode tahun 2009 sampai 2010. Pulau Sumba NTT, daerah yang mungkin anda belum pernah dengar bukan? Sumba adalah Pulau seribu awan, aku menyebutnya demikian karena dikelilingi beraneka awan mengelilingi atas langit Sumba. Tempatku PTT, Puskesmas Nggongi Kecamatan Karera merupakan Kecamatan lama yang sudah terbentuk. Menurut peta yang terpampang di dinding Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur (Dinkeskab Sumba Timur) Puskesmas Nggongi berada di kilometer 160 dari kota Waingapu, ibukota Sumba Timur. Kecamatan Karera merupakan daerah kerajaan, Bapa Raja masih hidup dengan usia yang udah senja. Bapa Raja mempunyai hamba (semacam abdi dalem) yang patuh dan setia pada perintah sang Bapa Raja. Orang Sumba sendiri banyak yang mengetahui tempat PTT-ku ini, sebab Karera adalah daerah penghasil jambu mente dan sentra ternak seperti kerbau, babi, kuda dan kambing.  Hanya dokter laki-laki yang di tempatkan disana, sudah lama tidak ada tambahan dokter karena medan yang relatif jauh dan transportasi yang susah ditembus. Jarak tempuh dari Waingapu ke Nggongi memakan waktu 4-5 jam bila perjalanan dilakukan dengan sepeda motor dan angkutan umum, jangan harap angkutan umum yang nyaman, angkutan ini hanyalah sebuah truk yang tidak hanya mengangkut manusia tapi juga hewan yang akan dijual di kota. Tentu bisa dibayangkan kecepatan bus dengan menghitung jarak tempuh dengan waktu tempuhnya.  Aku baru tahu (anda tidak akan tahu bila tidak meihatnya sendiri) ketika menuju Puskesmas Nggongi tempat-ku bertugas untuk pertama kalinya. Perjalanan dari Waingapu ke Karera melewati Puskesmas lainnya antara lain Tanarara dan Kananggar setelah itu baru Nggongi. Jangan harap perjalanan bakal menyenangkan, kiri kanan jurang terjal dan dalam diantara gunung-gunung cadas dan melewati sungai-sungai kecil. Diantara keterbatasan transportasi itu, dalam benakku Sumba punya potensi alam yang luar biasa. Perjalanan menuju Nggongi memang berat namun pemandangan sungguh indah di mata, tanarara banyak terdapat tanah-tanah yang berwarna merah dan bangunan makam megalitikum tepat didepan rumah masing-masing penduduk. Pada waktu SK penempatan turun, Dinkeskab paling akhir menempatkan aku karena butuh mobil khusus dan supir yang mengenal medan ke Karera. Kecamatan Karera sebenarnya memiliki potensi yang besar tapi kurang digarap secara maksimal. Listrik disana ada 12 jam, air mandi memakai sumur dengan menimba sendiri dan kebetulan ada sinyal Telkomsel yang udah masuk Kecamatan. Karera setelah pemekaran terdiri dari 5 desa yaitu Nggongi, Nangga, Tandula Jangga, Praimadita dan Janggamangu. Telkomsel masuk baru 4 tahun yang lalu, sebelum ada signal Telkomsel akses perdagangan menjadi terhambat. Padahal Karera adalah sentra penghasil jambu mente dan sentra ternak seperti kerbau, babi, kuda dan kambing. Sekarang dengan adanya sinyal Telkomsel kehidupan Karera menjadi berubah, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidupnya. Tiap bulan sinyal ini kadang mati 1-2 hari karena beban pemakaian penduduk desa yang relatif sangat tinggi dan menggantungkan Telkomsel untuk sekedar menghubungi kerabat di kota maupun bertransaksi dagang. Maklum hanya Telkomsel yang mampu masuk pedalaman Sumba Timur. Selama 9 bulan aku ditempatkan di Karera, kemudian dipindahkan ke Kecamatan baru pemekaran di Ngadu Ngala sebagai Kepala Puskesmas. Ngadu Ngala yang baru pemekaran, masih dirasakan jauh tertinggal dengan kecamatan Karera karena belum ada sinyal telepon disana. Janganpun sinyal, listrik desa saja harus memakai genset desa yang cuma menyala 6 jam per harinya dan hari pasar cuma ada pada hari Jum’at. Bisa ditarik benang merah daerah Ngadu Ngala belum semaju Kecamatan lain seperti Karera.

Kekayaan Alam dan Budaya Sumba Warisan Dunia

Rumah Adat dan Makam Para Raja Sumba
Namun aku bersyukur ditempatkan disini, Sumba terkenal mempunyai warisan budaya tinggi. Pulau yang terkenal dengan sebutan sandlewood ini merupakan surga bagi penikmat jaman prasejarah. Bangunan khas berupa megalitikum merupakan kekayaan tersendiri di Pulau Sumba. Di setiap sudut desa dan kampung begitu mudah Anda menemukan menhir—batu besar seperti tiang atau tugu yang ditegakkan di tanah, sebagai perlambangan arwah nenek moyang yang telah meninggal. Begitu juga dolmen—monumen prasejarah berupa meja batu datar yang ditopang tiang batu, dolmen tersebar di tiap-tiap kampung. Bangunan megalitikum terkait erat dengan kehidupan sebagian masyarakat Sumba yang menganut agama tradisional Marapu. Marapu merupakan agama asli orang Sumba sebelum disentuh pengaruh agama Kristen. Meskipun kini, Marapu semakin terpinggirkan akibat tergerus arus modernisasi. Ketika saya disana saya sempat mengikuti upacara perkawainan. Begitu beruntungnya saya, karena upacara perkawinan menyimpan daya tarik tersendiri. Upacar perkawinan menarik ketika terjadi pembicaraan mengenai belis (mas kawin). Sebab, belis dalam rupa ternak itu bisa mencapai puluhan hingga ratusan ekor kuda, kerbau, babi dan sapi yang harus diserahkan ke keluarga perempuan. Budaya belis menjadi budaya yang turun-temurun terutama perkawinan yang melibatkan kaum maramba (darah biru). Sumba juga terkenal akan kain tenunnya yang berharga mahal, tenun ini dicari wisatawan asing. Untuk baju adat, kaum pria mengenakan kain tenun ikat “Hinggi” dililitkan kepinggang dengan ikat pinggang dan parang yang ditancapkan kedalam kain tenun dan ikat pinggang. Mereka juga memakai ikat kepala yang dibuat dari tenun ikat. Kain ikat ditenun menggunakan motif binatang dan manusia. Di Sumba Timur, umumnya tenun ikat berwarna dasar hitam dengan motif berwarna. Tenun ini bisa didapatkan di Kecamatan Rindi, ujung barat Sumba Timur. Tenun disana merupakan warisan langsung kerajaan di daerah Rindi, jadi bisa ditebak kain motifnya halus dan mempunyai nilai artistik tinggi. Setiap hari Jum’at PNS disana diwajibkan memakai baju tenun ini seperti memakai batik di Pulau Jawa pada hari-hari tertentu. Daerah kerajaan memang masih ada di Sumba, namun eksistensinya mulai tergerus jaman. Bila anda ke Sumba, anda dapat menuju kampung adat di Desa Rende. Disana masih banyak ditemukan rumah adat dan kuburan batu adalah sebagai simbol kehidupan dan kematian. Bila anda ingin memancing, Sumba adalah salah satu spot mancing di Indonesia. Mancing mania sebuah stasiun TV sering mengambil gambar di Sumba, monster-monster giant trevally, dogtooth tuna, amberjack dll merupakan buruan pemancing. Di Sumba Timur juga kaya akan pantainya, pantai Tarimbang adalah pantai terkenal di antara backpacker asing. Sekitar pantai ada home stay penduduk yang dikelola pak Marthen di Kecamatan Tabundung.

Kehangatan Penduduk dan Toleransi di Sumba 

Budaya khas dari tanah ini adalah mengunyah sirih pinang, mereka tidak sungkan memberikan kepada setiap tamu yang datang sebagai tanda persahabatan. Sirih pinang kata penduduk disana sebagai lisptik yang tidak mampu dibeli, begitu guyonan mereka. Sirih pinang sudah membudaya lama, sirih yang dicampur pinang dan dimakan dengan kapur ini akan terasa pahit bila tidak biasa mengunyahnya. Meskipun dengan mengunyah sirih pinang membuat ludah mereka berwarna merah. Penduduk Sumba juga mempunyai warisan budaya berupa cium Sumba melalui menempelkan kedua hidungnya sebagai tanda persaudaraan. Ini sudah menjadi tradisi yang berjalan turun temurun terutama bila sudah lama tidak bertemu saudara jauh. Selain sirih pinang anda akan disajikan dengan kopi Sumba yang nikmatnya luar biasa, kopi ini merupakan hasil perkebunan warga yang kemudian ditumbuk sendiri. Anda bakal merasakan aroma kopi yang enak dan pas ketika di lidah. Saya sebagai seoramg muslim di pedalaman Sumba memang harus menjaga makanan, terutama yang halal. Namun di Karera maupun Ngadu Ngala anda tidak akan diberikan masakan makanan yang dicampur babi. Penduduk setempat pasti akan mempersilahkan saya atau Kepala Puskesmas Nggongi yang muslim untuk menyembelih ayam kampung yang mereka persiapkan. Dan yang anda harus ketahui, mereka menyuruh kita menyembelihnya dengan tata cara Islam dan mereka akan memasaknya dengan cara terpisah dengan makanan mereka yang mengandung babi. Ini biasanya dilakukan bila kita lagi melakukan Puskesmas Keliling maupun acara adat seperti kematian. Toleransi yang sungguh diidam-idamkan yang jarang kita temui. Upacara kematian menjadi atraksi tersendiri karena bila yang meninggal dari keluarga maramba, mereka akan memotong kerbau yang ditebas hanya dengan sekali tebasan parang dan kerbau harus langsung mati. Dan kemudian dagingnya dibagi-bagikan secara gratis ke penduduk sekitar. Di pedalaman Sumba memang masih tradisional tetapi mempunyai budaya dan toleransi yang tinggi.

Potensi budaya, kekayaan alam yang melimpah ruah di Indonesia khususnya kawasan timur harus dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa ini, jangan sampai dikuasai bangsa lain. Dan tentunya Anda harus mencoba pergi ke Sumba!

I love Sumba... 

Read More >> Tanah Sumba Ku Akan Kembali

Puisi: Beri Daku Sumba

BERI DAKU SUMBA

Oleh Taufiq Ismail

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bila mana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat-asam panas mulai dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa-nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak berkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah-padam, membenam di ufuk yang teduh
 
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Read More >> Puisi: Beri Daku Sumba

Penjaga Warisan Budaya Sumba

By: KORNELIS KEWA AMA

Salah satu Tarian Adat Sumba
Sanggar Seni Oriangu pimpinan Hendrik Pali Hamapaty tak asing bagi warga Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Di sanggar itu, para pejabat, mahasiswa, dan pelajar dari Sumba ataupun luar Sumba, termasuk turis asing, dapat melihat dan mempelajari beberapa seni tradisi lokal Sumba yang masih tersisa.
Sumba terkenal dengan budaya dan tradisi lokalnya. Kepercayaan agama asli Marapu memperkaya khazanah budaya dan tradisi itu. Namun, seiring perkembangan zaman dan masuknya agama baru, perlahan-lahan budaya dan tradisi lokal mulai ditinggalkan masyarakatnya. Hal yang konkret adalah punahnya sejumlah tarian daerah, musik, cerita rakyat, ataupun Marapu sebagai kepercayaan asli Sumba.
Literatur tari tradisional Sumba menyebutkan, ada lebih dari 100 tarian lokal yang menggambarkan kepercayaan kepada Tuhan agama asli Marapu, kehidupan warga, keadilan, kejujuran, pesta panen, dan pesta perkawinan. Namun, sebagian besar tarian itu sudah terlupakan, hanya 22 tarian yang masih bisa ditarikan.
Dari 22 tarian tradisional itu pun 18 di antaranya nyaris hilang. Tarian itu, antara lain, Kabokang (tarian untuk menghormati raja agar selalu jujur dan adil memimpin), Mapandamu (tarian mewujudkan rasa syukur atas kelahiran anak), Kandingan (tarian syukur pada pesta panen), Patanjangung (tarian syukur atas panen perdana), dan Panapang banu (tarian melamar gadis).
Ada juga tarian Ningguharana yang dibawakan pria dan perempuan untuk menyambut pahlawan yang pulang dari peperangan. Kini, tarian itu dibawakan saat menjemput para peserta pasola yang baru pulang dari pertarungan (permainan melempar tongkat kayu sambil menunggang kuda).
Tim Ekspedisi Jejak Peradaban Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ke Pulau Sumba bertemu dengan Hendrik Pali Hamapaty yang prihatin dengan punahnya sejumlah budaya dan tradisi lokal Sumba. Hendrik menilai, budaya dan tradisi Sumba memiliki pesan kuat bagi kehidupan persaudaraan, kebersamaan, kehidupan sosial, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Itu yang memotivasi dia mendirikan Sanggar Oriangu.

Terinspirasi Yogyakarta

Hendrik, pemilik sanggar dan pelestari seni budaya tradisional Sumba ini, terinspirasi kegiatan para seniman di Yogyakarta. Di kota itu, seni bisa menghidupi senimannya. Sementara di daerah seperti Sumba, seniman harus berjuang dan bersusah payah menghidupi keluarganya. Ini belum termasuk mendapatkan dana untuk mempertahankan dan melestarikan tradisi yang sudah dan terancam punah.
”Sepulang dari Yogya tahun 1980, setelah menekuni seni tari di sanggar milik Bagong Sutrisnadi, saya mulai menyosialisasikan tarian-tarian itu di sekolah-sekolah. Kini, hampir semua sekolah dasar dan menengah di Sumba belajar tarian di sanggar ini. Para guru pun belajar tarian untuk melatih para siswa. Bahkan, tarian-tarian yang hampir punah bisa masuk dalam muatan lokal sekolah dasar dan menengah,” katanya.
Sanggar Oriangu pun penuh sesak menjelang 17 Agustus, saat para siswa dan guru menyiapkan diri untuk lomba tarian tradisional. Setiap kelompok harus diajari tarian berbeda dengan modifikasi berbeda pula. Ada tarian berisikan kepahlawanan, pendidikan, keadilan, pengorbanan guru, kehidupan petani di sawah, kejujuran, dan kehidupan sosial.
Tarian yang terancam punah pun kembali populer. Pemerintah kabupaten setempat juga kerap meminta Hendrik menyajikan sejumlah tarian khas Sumba bersama peserta didiknya untuk menyambut kedatangan tamu atau pelantikan pejabat.
Hendrik mengaku sekali pentas dibayar Rp 500.000-Rp 2,5 juta. Jika mereka tampil di hadapan turis asing, bayarannya bisa sampai Rp 5 juta sekali tampil. Uang itu langsung dia bagikan kepada peserta didik yang umumnya anak putus sekolah dan lulusan sekolah menengah yang belum mendapat pekerjaan.
Kalau tak ada permintaan pentas, latihan rutin tetap dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu. Tujuannya agar anak-anak tak berkeliaran di jalanan pada malam Minggu atau hari libur.
Sebanyak 50 anak didik angkatan pertama (1982-1985) sudah menyebar ke sejumlah kecamatan dan desa untuk melatih sekaligus mempelajari dan mengkreasi tarian yang ada. Dari penyebaran anak didik Hendrik ke desa-desa itu, didapatkan lima tarian baru yang belum ditampilkan karena masih perlu dipelajari asal usul dan arti setiap gerakannya.

Sanggar serba guna

Hampir 10 angkatan telah belajar di sanggar ini. Oriangu sudah menjadi pusat pembelajaran siswa sekolah dasar dan menengah. Sejumlah sekolah di pedalaman Sumba pun datang ke Sanggar Oriangu untuk belajar tari tradisional.
”Sanggar ini saya bangun atas dukungan dana dari para biarawati Katolik di Denpasar senilai Rp 40 juta. Tujuan awalnya untuk pelestarian tari tradisional dan pelatihan tenun ikat Sumba. Tetapi kemudian berkembang menjadi sanggar serba guna,” ceritanya.
Dinas Tenaga Kerja Sumba Timur pun sering mengirimkan orang untuk mengikuti pelatihan tenun ikat di sanggar ini. Mereka umumnya lulusan sekolah menengah dan sekolah dasar. Oleh karena keterbatasan ruangan, fasilitas pendukung, dan tenaga, Sanggar Oriangu fokus pada kegiatan tarian, musik lokal, dan sastra lisan yang dipercaya bersifat mistis-magis.
Alat musik yang ditekuni Hendrik, antara lain, gong dan tambur yang masih umum digunakan. Keterbatasan tenaga dan dana membuat ia kesulitan mendalami sejumlah alat musik yang telah punah.
”Saya sedang mencari alat musik jungga yang masih tersimpan di desa-desa. Saya butuh orang khusus untuk memainkan alat musik ini. Kalau ada pemainnya, kami akan mengumpulkan generasi muda di sanggar untuk berlatih dan mementaskan jungga di hadapan para turis, pejabat daerah, dan masyarakat luas,” katanya.
Menurut Hendrik, awal 1990-an terdapat 57 sanggar. Namun, keterbatasan dana dan tidak adanya dukungan dari masyarakat mengakibatkan sanggar-sanggar itu tutup.
”Saya bertahan dengan kemampuan amat terbatas. Saya ingin Sumba tetap memiliki semangat kebudayaan asli. Jangan sampai budaya lokal Sumba punah dan yang ada hanya budaya impor. Hal ini mulai terasa sekarang,” kata Hendrik.


sumber: kompas
Read More >> Penjaga Warisan Budaya Sumba

Kuda Sumba

Kuda Sumba
Pada zaman dahulu, kuda sering dipakai sebagai kendaraan perang oleh masyarakat Sumba. Pasola merupakan salah satu bukti kepiawaian pria Sumba menunggang kuda sambil berperang. Pasola juga merupakan ritual masyarakat penganut kepercayaan Merapu untuk meminta berkah para dewa agar panen berhasil baik.

Di Sumba Barat, ritual Pasola diadakan setiap tahun, antara bulan Februari dan Maret. Pasola merupakan atraksi adat dalam bentuk perang-perangan oleh dua kelompok berkuda beranggotakan sekitar 100 orang. Mereka saling berhadapan bersenjatakan tombak berujung tumpul.

Dalam satu dasawarsa terakhir tombak diganti dengan kayu yang dibuat seperti tombak. Terkadang ada korban jiwa dalam pasola. Namun tidak bisa diproses secara hukum. Masyarakat setempat percaya bahwa korban yang meninggal dunia dalam ritual itu sebagai hukuman para dewa kepada yang bersangkutan.

Kuda-kuda di Sumba hidup bebas di padang pengembalaan. Tak ada pagar yang membatasi ruang gerak mereka. Kecuali kuda pacu, yang dipelihara khusus. Harga kuda pacu bisa mencapai ratusan juta rupiah.  Sumba, terutama Sumba Timur kemudian dikenal sebagai daerah penangkaran kuda pada abad ke-19 ketika Belanda mulai memperbaiki kualitas kuda sumba dengan cara mengawinkan kuda sumba dengan kuda arab. Kawin silang inilah yang menghasilkan kuda sumba yang dikembangkan masyarakat Sumba sampai saat ini.

Kuda sandel atau kuda sumba sampai sekarang masih merupakan jenis kuda dengan populasi terbesar di Pulau Sumba dan dikirim  ke luar  Pulau Sumba antara lain ke Sulawesi, Jawa,  Madura, Bali, Jakarta bahkan ke Kalimantan untuk dipergunakan sebagai kuda tarik, kuda tunggang serta kuda pacu.  Kuda Sandelwood terkenal karena kekuatan dan daya tahan yang tinggi. Kondisi alam yang tidak ramah itu telah membentuk kuda sumba sebagai salah satu jenis kuda dengan stamina yang kuat.

Daya tahan tubuh kuda sandel telah teruji secara nasional dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kelas penunggang terlama dan terjauh bersama penunggang asal Lembang, Jawa Barat, Billy Mamola pada Agustus 2008 lalu di Lembang, Jawa Barat. Kuda  Sumba mampu menempuh perjalanan  500 kilometer dari Lembang, Jawa Barat sampai ke Pangandaran, daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sebagai pencinta kuda, Billy Mamola mengaku menjatuhkan pilihan pada kuda sumba karena kuda sumba mempunyai kuku yang sangat kuat.   Bily mengaku kagum dengan kuda sumba karena postur dan kukunya kuat.  Kekuatan kuda sumba yang bertumpu pada kuku diperkirakan disebabkan kondisi alam Sumba yang tandus dan berbukit-bukit serta cara pemeliharaan yang dilakukan secara ekstensif atau  dilepas bebas merumput di padang. Jenis makanan kuda Sumba dari rerumputan liar, kata Billy, diperkirakan ikut mempengaruhi kekuatan dan daya tahan kuda sumba.

Tentu saja ke depan,  peningkatan kualitas kuda sumba tidak sepenuhnya diserahkan kepada alam. Perbaikan kualitas menjadi prioritas. Sayang, Pemerintah Daerah Sumba Timur secara khusus belum  memiliki pusat pembibitan kuda suma yang memadai.

Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora pernah mengungkapkan akan membangun pusat pembibitan kuda di daerah. Namun rencana itu tetap disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Saat ini pusat pembibitan kuda masih bergabung dengan sapi dan kerbau. Namun pusat-pusat pembibitan di masyarakat sebenarnya cukup banyak.

Salah satunya adalah pusat pembibitan milik Sukianto Untono. Bahkan kuda-kuda hasil penangkaran Sukianto sudah menembus pasar nasional dan pernah mencetak prestasi di tingkat nasional.

Meskipun telah mencetak prestasi secara nasional, perhatian dan dukungan pemerintah daerah untuk prestasi olah raga berkuda masih rendah. Hal itu pernah dikeluhkan Sukianto ketika kudanya mencetak prestasi di tingkat nasional beberapa waktu lalu. Selain untuk kejuaraan di tingkat nasional, orang sumba sendiri mempunyai tradisi pacuan kuda tradisional. Pacuan kuda tradisional ini dilakukan oleh para joki yang masih berusia belia.

Dalam pacuan kuda tradisional ini para joki tanpa dilengkapi pengaman. Demikian juga dengan kuda yang digunakan dalam pacuan tradisional tersebut. Orang jatuh dari kuda dalam acara tersebut sudah biasa. Namun tidak pernah ada yang meninggal dunia karena orang sumba memiliki tata cara penyembuhan secara tradisional. Para joki yang jatuh dari kuda hanya disirami air yang didoakan para imam Merapu dan sudah bisa bangkit dan kembali mengikuti perlombaan.

Bagi orang luar Sumba ini mungkin menakutkan dan mengerikan. Namun bagi orang sumba, di sinilah tempatnya menguji nyali. Tidak hanya penunggangnya tetapi juga kecepatan dan daya tahan kuda. Orang rela taruhan puluhan juta rupiah untuk kuda jagoannya. Karena itu, tidak heran jika pagelaran pacuan kuda juga menjadi surga bagi para penjudi.

Tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak sekolah berseragam putih  merah, putih biru maupun putih abu. Itu sebabnya terkadang perlombaan pacuan kuda juga menjadi biang terjadinya konflik yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

Lepas dari itu semua, peningkatan kualitas kuda sumba yang sudah menjadi ikon tanah Sumba harus menjadi perhatian semua pihak, terutama pemerintah daerah. (adiana ahmad)


sumber: kompas.com
Read More >> Kuda Sumba

Anggota Paripurna Sumba Timur Gunakan Baju Adat

SUMBA- Anggota DPRD di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), diwajibkan untuk berpakaian adat pada setiap sidang pembukaan dan penutupan sidang. Bahkan jika membangkang, maka akan dikenakan sanksi.

Ketua Badan Kehormatan DPRD Muhamad Zein Bunga menjelaskan, langkah itu sebagai bentuk keprihatinan sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi dan budaya daerah.

“Ini sebagai salah satu upaya untuk melestarikan budaya daerah. Jadi pada saat memasuki masa sidang, khususnya pada saat pembukaan dan penutupan sidang pembahasan anggaran, setiap anggota DPRD juga kalangan eksekutif dan undangan yang hadir saat sidang wajib mengenakan pakaian adat tradisional. Khusus untuk anggota DPRD jika sebanyak tiga kali membangkang akan dikenai sanksi teguran keras, jika sampai enam kali maka sesuai Tatib akan diproses lebih lanjut oleh Badan Kehormatan dan Fraksi,” tegasnya, Kamis (26/1/2012)

Tak hanya itu, para peserta sidang yang membangkang tentunya akan merasa risih dengan peserta sidang lainnya, juga akan ditempatkan pada sisi lain di ruang sidang utama.

Sementara untuk kalangan eksekutif yang mengikuti sidang juga diwajibkan untuk berpakaian adat khas Sumba Timur yang didominasi kain tenun ikat setempat.

“Setiap pimpinan SKPD wajib mengenakan pakaian adat, saat mengikuti sidang DPRD. Jika melanggar, saya akan beri teguran keras. Hingga kini kami masih merancang aturan dan sanksi yang lebih keras bagi eksekutif yang melanggar. Selain tentunya sanksi moral dari masyarakat yang akan menilai figure yang bersangkutan tidak mencintai budaya dan kekahasan daerahnya,” tandas Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilidjora, kala dimintai penjelasannya usai pelaksanaan sidang.

Sejumlah pihak yang ditemui terpisah untuk dimintai tanggapannya mengungkapkan dukungannya hampir senada. Yakni adanya makna yang bisa dipetik berupa semangat untuk melestarikan budaya. Hingga tidak hanya diwajibkan dan didengungkan oleh petinggi negeri kepada rakyat dan kaum muda, namun juga mau memberi contoh konkret.

Eksekutif dan legislatif Sumba Timur, kali ini menunjukan contoh pada rakyat untuk tetap bangga dengan budaya dan tradisinya, tidak menginginkan penggantian toilet, sekalipun toilet DPRD tidak terlampau bersih, dan telah termakan usia. Tidak menjadi sebuah masalah asalkan masih bisa digunakan.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/crl)
Read More >> Anggota Paripurna Sumba Timur Gunakan Baju Adat

Minggu, 22 Januari 2012

Banjir di Sumba Rusak Jagung dan Hanyutkan Ternak Warga

SUMBA - Banjir di Kelurahan Temu dan Dusun Tai Manu, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT,  menghancurkan puluhan hektar kebun jagung milik warga. Tak hanya itu, puluhan ternak babi dan kambing milik warga ikut hanyut terbawa banjir.

Warga terkejut, kebunnya hancur karena banjir yang datang begitu tiba-tiba. Padahal hujan yang tidak terlalu deras turun hanya dalam waktu satu jam. “Banjir datang tiba-tiba. Saat itu saya masih di kebun habis bersihkan rumput di kebun jagung. Tiba tiba ada bunyi gemuruh. Ternyata air datang dari atas dan bawa kayu-kayu besar. Saya sempat terbawa banjir namun untung tersangkut di pohon dan ditolong warga lain. Tapi jagung dan ubi kayu saya rata tanah,” ujar Ama Nai, Kamis (19/1/2012).

Tak hanya kebun jagung  dan palawija yang masih berusia tidak lebih dari sebulan yang rusak. Warga juga mengeluhkan ternak babi, kambing dan ayam mereka yang hanyut kelaut terbawa banjir bandang yang berlangsung cepat tak lebih dari 30 menit.

Pemerintah setempat, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilidjora, berjanji akan secepatnya memberikan bantuan darurat bagi warga yang terkena dampak banjir.

“Saya telah minta BPBD untuk mendata dan secepatnya memberikan bantuan darurat berupa beras dan mie instat serta ikan kaleng kepada warga yang terkena musibah ini. Kini bantuan dalam perjalanan kemari. Data sementara yang saya peroleh, sebanyak lebih dari 40 KK atau  lebih  dari 200 jiwa perlu segera dibantu,” jelas Gidion.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/fer)
Read More >> Banjir di Sumba Rusak Jagung dan Hanyutkan Ternak Warga

Polisi Pemukul Penjual Ikan Dihukum 7 Hari di Sel

Warga menonton video anarkis oknum polisi
SUMBA - Brigadir satu (Briptu) Polisi MPH pelaku pemukulan terhadap Hafid Harun (32), seorang penjual ikan, di kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT,  akhirnya menjalani sidang disiplin.

Briptu MPH, anggota satuan lalu lintas (Satlantas) Polres Sumba Timur ini, diperhadapkan pada sidang disiplin dan kode etik, di aula Mapolres setempat, karena sesuai hasil pemeriksaan dan penyidikan propam, terbukti melakukan tindakan yang menjatuhkan martabat polri, juga merugikan masyarakat yang semestinya dilindungi dan diayomi.

Sidang yang dipimpin oleh Wakapolres Sumba Timur, Kompol. Nugroho A.S, itu akhirnya menjatuhkan hukuman disiplin berupa penahanan di ruang khusus selama 7 hari dan penundaan mengikuti pendidikan bagi terdakwa.

Terdakwa di depan pimpinan sidang disiplin dan kode etik,  menyatakan menerima dan siap menjalani sanksi disiplin yang dijatuhkan oleh pimpinan sidang.

Adapun hal yang meringankan terdakwa yakni, yang bersangkutan mengakui perbuatannya, dan secara proaktif telah secara pribadi meminta maaf atas kekhilafannya, setelah peristiwa pemukulan terjadi. Juga  korban pemukulan dan keluarganya telah secara ihklas memberi maaf.
(Dion Umbu Ana Lodu/Sindo TV/fer)
Read More >> Polisi Pemukul Penjual Ikan Dihukum 7 Hari di Sel